oleh

Dharma Pertiwi Daerah K Terima Sosialisasi Bahaya Paham Radikalisme dan Undang-Undang ITE

JAKARTA (FN)- Dharma Pertiwi Sejajaran Daerah K menerima Sosialisasi Bahaya Paham Radikalisme dan Sosialisasi Undang-Undang ITE dari Nara Sumber Bapak Brigjen TNI Raden Toto Oktaviana, S.Sos bertempat di Aula Sudirman Makodam Jaya-Cililitan Jaktim, Selasa (5/11/2019).

Mengawali acara sosialisasi, Ketua Dharma Pertiwi Daerah K Ny. Atiek Eko Margiyono dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para pembicara dan ibu-ibu Dharma Pertiwi Daerah K atas atensinya untuk hadir mengikuti “Sosialisasi Bahaya Paham Radikalisme dan Sosialisasi Undang-Undang ITE.

” Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman ibu Ketua Dharma Pertiwi Daerah K, pada kesempatan yang sama juga mensosialisasikan tentang Keamanan Pangan Faktor Mutlak Pangan Berdaya Saing, karena semakin banyak ibu-ibu yang mempunyai usaha menjual makanan dan minuman. Topik ini juga sangat relevan dalam upaya kita menyiapkan generasi penerus yang lebih sehat, sekaligus mencari berbagai peluang guna membantu menguatkan ekonomi keluarga melalui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)”,
Jelasnya.

“Semoga ibu-ibu tetap fokus menerima seluruh seluruh materi sosialisasi yang disampaikan dan bertanyalah jika masih ada yang dipahami”, harapnya.

Mengakhiri sambutannya mengatakan selanjutnya dalam kesempatan ini, saya selaku Ketua Dharma Pertiwi Daerah K dan pribadi, saya menghaturkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Brigjen TNI Raden Toto Oktaviana, S.Sos dan Kolonel Chk Anggiat Lumban Toruan, S.H., M.H atas kesediaannya berbagi ilmu dan wawasan.

Brigjen TNI Raden Toto Oktaviana, S.Sos sebagai pemberi materi menyampaikan saat ini ketergantungan masyarakat kepada media sosial tak dapat dipungkiri, semua kalangan dengan begitu mudahnya mampu mengakses dan meneruskan sebuah informasi tanpa terlebih dahulu meneliti ataupun memastikan kebenarannya.

“Fenomena dan kegandrungan masyarakat inilah yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu untuk menyebar-luaskan paham radikalisme serta berbagai informasi sesat, kepentingan sesaat dan hoax”, jelasnya.

Lanjutnya menerangkan, Ddalam kurun waktu 10 tahun terakhir, masyarakat kita mudah sekali terpancing bila ada kritik atau hasutan di media. Gampang marah dan memberikan komentar dengan nada menyudutkan. Kondisi ini bila tidak dicegah, dikhawatirkan akan mempengaruhi perilaku serta merusak budaya luhur bangsa yang menjunjung tinggi sopan santun, norma kesusilaan, kesederhanaan dan sikap saling menghormati. Bahkan masyarakat akan mudah terbelah, frekuensi kekerasan akan meningkat dan pada akhirnya persatuan dan kesatuan bangsa akan terabaikan.

“Menyadari situasi dan kondisi demikian, maka sosialisasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sangat relevan saat ini, dan menjadi sangat penting”, jelasnya.

Dalam literatur Raising Kid in Digital Era (2014) ditekankan panduan anak untuk menggunakan medsos diantaranya ; pertama, memberikan akses medsos saat usia anak 13 tahun ke atas. kedua, memahami aturan dasar media sosial yang disepakati bersama. Peraturan perlu dibahas, didiskusikan dan sebab akibatnya disepakati. Melanggar aturan berarti siap menerima konsekuensi yang dibicarakan bersama anak. Ketiga, membantu anak mengatur privasi dalam medsos.
Mengaktifkan privasi pada internet dan medsos anak wajib hukumnya bagi para orangtua, untuk melindungi anak dari sasaran kejahatan dunia maya. Keempat, jangan izinkan anak menggunakan laptop/ komputer di kamar sendirian. Fasilitas internet sebaiknya digunakan di ruang keluarga atau ruang terbuka, sehingga orangtua bisa memonitor apa yang dilakukan anak.

Kelima, orangtua perlu memperhatikan aktivitas online dan offline pada anak. Usahakan agar tidak ada rahasia pada gadget/ laptop yang dimiliki anak sehingga orangtua bisa mengakses histori, dokumen, gambar/film atau apapun didalamnya. Keenam, monitor segala bentuk konten yang diposting anak di medsosnya. Orangtua berhak ikut andil dalam menentukan konten seperti apa yang boleh/tidak boleh diposting oleh anak. Ketujuh, bicarakan pada anak mengenai bahaya yang terjadi di dunia maya. Buka komunikasi dua arah ketika anak mulai menggunakan internet khususnya medsos secara mandiri. Ingatkan agar tidak memberikan informasi yang bersifat rahasia dan pribadi kepada orang tidak dikenal dan kedelapan, orangtua juga harus melek teknologi. Tanggung jawab orangtua salah satunya adalah memahami aplikasi, tombol dan fasilitas penting yang ada dalam gadget, sehingga anda bisa menjadi contoh dalam penggunaan medsos serta terhindar dikelabui anak sendiri.

“Saya yakin, semua Ibu di sini pasti tidak ada yang akan membuat kekeliruan yang dapat mengakibatkan kerugian pada diri sendiri, keluarga, lingkungan dan organisasi, dan ke depan agar dapat lebih memahami aturan dan sanksi penyalahgunaan media sosial ini”,pungkasnya.

Saat dilaksanakan pemberian sosialisasi suasananya sangat hidup, hal itu terlihat beberapa ibu-ibu Dharma Pertiwi menyampaikan pertanyaan menyangkut tentang materi Sosialisasi yang diberikan oleh nara sumber.

Turut hadir dalam acara sosialisasi Bahaya Radikalisme dan UU ITE yaitu Wakil Ketua Dharma Pertiwi Daerah K unsur Pia Ardhya Garini Ny. Khairil Lubis, unsur Jala Senastri Ny. Fera Muhammad Ali, Wakil Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah Jaya, Ny. Uke Suharyanto dan Wakil Ketua IKKT Cabang VI Skogar Ny. Dian Syafrudin, Nara sumber Bapak Brigjen TNI Raden Toto Oktaviana, S.Sos, Pembina Harian Darma Pertiwi Daerah K, Aster Kasdam Jaya/Jayakarta, Kakumdam Jaya, Ketua Koorcabrem 051 dan 052 PD Jaya, para Ketua Cabang, Ranting dan Ranting BS sejajaran PD Jaya dan Para Pengurus Darma Pertiwi Daerah K dan Persit KCK PD Jaya, Pengurus Yayasan serta Kepala Sekolah Tingkat SMP dan SMA.(red)

News Feed