Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia, Dinkes Tangsel Ajak Kolaborasi Tangani TBC

Tangsel, Fixsnews.co.id- Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah tuberkulosis (TBC), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengajak seluruh pihak (pentahelix) berkolaborasi menangani kasus TBC sebagai langkah mewujudkan target keberhasilan eliminasi TBC pada tahun 2030.

“Penyakit TBC tidak hanya memberikan dampak kesehatan, namun juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi. Penanganan kasus TBC sangat tergantung pada kontribusi dan kolaborasi lintas sektor dari berbagai lapisan masyarakat. Meliputi peningkatan kesadaran, penemuan kasus, serta dukungan pengobatan hingga sembuh. Maka dari itu, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga non-pemerintah, dan masyarakat diharapkan menjadi kunci dalam meraih target keberhasilan eliminasi TBC pada tahun 2030,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel dr Allin Hendalin Mahdaniar, MKM saat membuka kegiatan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2024 yang diselenggarakan di gedung utama Pemkot Tangerang Selatan , Jalan Maruga, Ciputat. Jumat (7/6/2024).

dr Allin mengungkapkan, TBC masih menjadi masalah kesehatan di dunia hingga saat ini. Berdasarkan data Global TB Report tahun 2023, Indonesia berada pada posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia setelah India dengan estimasi kasus sebanyak 1.060.000 kasus. Dengan jumlah kasus TBC di Indonesia diperkirakan sebanyak 1.060.000 kasus TBC dan 134.000 kematian akibat TBC per tahun, dapat dikalkulasi terdapat 17 orang yang meninggal akibat TBC setiap jamnya. Adapun jumlah penemuan kasus TBC di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2023 sebesar 5.709 kasus dan pasien TBC yang memulai pengobatan sebanyak 4.572.

“Penyakit TBC dapat disembuhkan dengan menjalani pengobatan secara tuntas. Untuk menjalani pengobatan, dapat terlebih dahulu memeriksakan diri ke Puskesmas atau pelayanan kesehatan terdekat dan pengobatan diberikan secara gratis dan bagi pasien TBC yang menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Namun Pasien TBC yang belum ditemukan dapat menjadi sumber penularan TBC di masyarakat sehingga hal ini menjadi tantangan besar bagi program penanggulangan TBC di Indonesia,” ungkapnya.

Lanjut dr Allin menjelaskan, program yang dilaksanakan untuk menangani TBC di Kota Tangsel meliputi skrining penemuan kasus TBC pada kontak serumah dan erat pasien TBC, pemberian terapi pencegahan tuberkulosis, kolaborasi dengan lintas program dan lintas sektor, kegiatan penemuan aktif TBC pada penyandang diabetes melitus dan kegiatan penemuan, pengobatan dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). untuk mencegah dan menemukan terjadinya TBC telah digencarkan program atau kampanye Temukan Tuberkulosis, Obat Sampai Sembuh (TOSS) TBC di Indonesia.

“Masyarakat harus diberikan informasi tentang penularan TBC sehingga penyakit TBC bisa ditekan dan dieliminasi. Dengan adanya kampanye TOSS TBC ini menjadi salah satu pendekatan untuk menemukan, mendiagnosis, mengobati dan menyembuhkan pasien TBC, serta menghentikan penularan TBC di masyarakat. Langkah-langkah yang dilakukan TOSS TBC meliputi, mencari dan menemukan gejala di masyarakat, mengobati TBC dengan tepat, hingga memantau pengobatan TBC sampai sembuh,” jelasnya.(ADV)