Isu Antrean Kapal 6 Hari di Tanjung Perak Surabaya Dibantah Pelindo, Waktu Tunggu Maksimal 30 Jam

oleh

Caption:Pelindo Terminal Petikemas membantah kabar antrean kapal hingga 6 hari di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Waktu tunggu layanan disebut hanya 15–30 jam.

Surabaya, Fixsnews.co.id– PT Pelindo Terminal Petikemas membantah kabar adanya antrean kapal hingga enam hari di sejumlah terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perseroan memastikan pelayanan bongkar muat berjalan sesuai perencanaan dan tidak berdampak signifikan terhadap jadwal sandar kapal.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyampaikan pelayanan di TPK Lamong, TPS Surabaya, TPK Nilam, dan TPK Berlian berlangsung normal.

“Kami pastikan tidak ada kapal antre hingga 6 hari lamanya untuk menunggu pelayanan di terminal peti kemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Perak,” tegas Widyaswendra, Senin (02/02).

Setiap kapal yang melakukan kegiatan di terminal peti kemas telah memiliki jadwal kedatangan melalui sistem berthing window. Pelayanan diberikan berdasarkan kebijakan operasional terminal dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas, keselamatan, kondisi lapangan, serta kelancaran arus kapal.

Pada periode tertentu, seperti menjelang hari besar keagamaan, aktivitas terminal peti kemas memang cenderung meningkat. Lonjakan jumlah muatan dan kunjungan kapal dapat memengaruhi ritme pelayanan bongkar muat.

Dalam kondisi tersebut, pengelola terminal tetap berupaya menjaga pelayanan tetap optimal bagi pengguna jasa.

“Waktu tunggu layanan bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari kapal datang lebih cepat atau terlambat, peningkatan muatan saat hari besar, kesiapan alat, hingga faktor alam seperti cuaca dan pasang surut,” jelas Widyaswendra.

Ia menambahkan, sebagian besar kapal tiba sesuai jadwal dan langsung mendapat pelayanan. Kalaupun terjadi keterlambatan, waktu tunggu masih berada di kisaran 15 hingga 30 jam.

Pelindo Terminal Petikemas juga terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Pada 2026, TPS Surabaya akan menerima tambahan 4 unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG). Sementara TPK Berlian akan diperkuat dengan 2 unit QCC yang diperkirakan tiba pertengahan 2026.

“Kami terus berbenah di seluruh wilayah kerja, mulai dari Belawan hingga Merauke,” ujarnya.

Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Stenven Handry Lesawengan, mengakui adanya laporan keterlambatan bongkar muat di TPK Berlian akibat kesiapan alat. Namun, pihaknya menyebut komunikasi dengan pengelola terminal berjalan baik.

“Pengelola terminal terbuka dan kooperatif mencari solusi. Tidak pernah ada antrean kapal hingga berhari-hari,” kata Stenven.

Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, mendorong percepatan peremajaan alat bongkar muat agar pelayanan semakin optimal.

“Kami berharap pembaruan alat tidak hanya di TPS Surabaya, tetapi juga di terminal peti kemas lainnya, khususnya TPK Berlian,” ujarnya.(Dilli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *