Sokong Swasembada Gula Nasional, Bupati Sanusi Buka Musim Giling PG Krebet Baru II Tahun 2026

oleh

​Malang-Jatim | Fixsnews.co.id-Kabupaten Malang kembali mengukuhkan posisinya sebagai barometer industri gula nasional. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, MM, secara resmi membuka kegiatan Buka Giling Rajawali I Unit Pabrik Gula (PG) Krebet Baru II Tahun 2026 di Bululawang, Jumat (1/5/2026).

​Kegiatan ini menjadi sangat spesial karena PG Krebet Baru II menjadi pabrik gula pertama di Jawa Timur yang memulai musim giling tahun 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun unit tersebut. Acara ditandai dengan penyerahan tebu pengantin secara simbolis dan penekanan suling launching sebagai tanda dimulainya operasional mesin giling.

​Deputi Bidang Koordinasi Tata Niaga dan Distribusi Pangan, Tatang Yuliono, S.Sos, M.M., yang hadir mewakili Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, memberikan apresiasi tinggi terhadap capaian produksi tebu di Kabupaten Malang. Ia menyebut Malang sebagai pilar utama dalam mengejar target swasembada gula konsumsi nasional sebesar 3,6 juta ton.

​”Kabupaten Malang adalah sentra produksi tebu di mana swasembada gula benar-benar tercapai. Kami juga akan kembali ke sini secara khusus untuk mempelajari keberhasilan koperasinya, yang merupakan bagian penting dari program strategis Bapak Presiden,” ujar Tatang.

​Dalam sambutannya, Bupati Sanusi menegaskan bahwa ribuan hektare lahan tebu di Kabupaten Malang harus didukung dengan hubungan industrial yang harmonis. Sinergi antara petani, pabrik gula, dan pemerintah daerah adalah kunci untuk meningkatkan rendemen dan pendapatan petani.

​”Semoga giling tahun ini berjalan lancar, aman, dan produktif. Saya berpesan agar efisiensi produksi terus ditingkatkan sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Mari kita bangun industri gula yang berkeadilan di Kabupaten Malang,” tegas Bupati Sanusi.

​Direktur Utama Rajawali I, Daniyanto, mengungkapkan bahwa musim giling tahun ini dimulai tepat waktu demi menjaga stabilitas ekonomi petani. Meski menghadapi tantangan berat seperti kenaikan biaya produksi kebun dan transportasi hingga 25%, serta mahalnya bahan penolong seperti belerang, pihaknya tetap optimis.

​”Kami berkomitmen mem-backup petani agar terus berkembang. Dengan perencanaan yang matang, kami harap harga gula tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu untuk menutupi kenaikan biaya produksi. Mohon doa restunya agar tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh mitra,” tutur Daniyanto.

​Senada, Komisaris Utama Rajawali I, Iqbal Andi Pakki, mengapresiasi kesiapan tim produksi dan manajerial yang mampu melakukan efisiensi di tengah fluktuasi harga global. Inovasi teknologi terus didorong agar kualitas produksi tetap stabil dan kompetitif di pasar internasional.(Dilli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *