Caption; Wamen Dikdasmen Atip Latipulhayat tegaskan pentingnya business mindset bagi guru SMK dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Kejuruan di BBPPMPV Pertanian Cianjur.
CIANJUR, FIXSNEWS.CO.ID-Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan pentingnya penguasaan business mindset bagi para guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar keterampilan yang dimiliki mampu menciptakan nilai tambah dan manfaat ekonomi di dunia nyata.
Hal tersebut disampaikan Atip saat menghadiri Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan Berbasis Dunia Kerja Moda Luring Angkatan 4 yang berlangsung di BBPPMPV Pertanian Cianjur.
Menurut Atip, kompetensi tenaga pendidik SMK tidak boleh berhenti pada penguasaan teori dan praktik di ruang pelatihan saja, melainkan harus dipahami bagaimana keterampilan tersebut diterapkan hingga memiliki nilai ekonomi.
“Kalau kita punya kompetensi produksi tapi tidak bisa dikomersialisasi, itu yang bikin frustasi. Akhirnya kompetensi hanya menutup basa-basi saja,” ujar Atip.
Atip menjelaskan bahwa business mindset bukan sekadar berbicara mengenai perdagangan atau mencari keuntungan. Lebih dari itu, cara berpikir tersebut mendorong seseorang aktif mencari peluang agar potensi yang ada memberikan manfaat luas, seperti mengembangkan sektor pertanian menjadi agribisnis hingga agrowisata.
Pelatihan ini diikuti sebanyak 147 guru SMK dari tujuh kompetensi keahlian, meliputi Bakery & Pastry, Hidroponik Melon, Pengolahan Buah, Anggrek, Penetasan Telur, Hijauan Pakan Ternak, serta Rekayasa Pakan Buatan.
Rangkaian kegiatan dirancang dalam 120 jam pelajaran (JP), yang terdiri atas 40 JP pembekalan, 70 JP pengalaman di dunia kerja/industri, serta 10 JP uji kompetensi dan sertifikasi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, meminta para peserta untuk tidak berhenti setelah pelatihan selesai, melainkan langsung mempraktikkannya di sekolah.
“Yang paling penting di samping mengajar coba dipraktikkan. Karena kalau upskilling di sini, lalu pulang dan tidak pernah dipraktikkan di kelas, hanya lihat siswa, itu enggak akan banyak berkembang,” kata Tatang.
Ia menambahkan bahwa keterampilan yang diperoleh guru perlu dikembangkan menjadi praktik nyata maupun peluang usaha yang melibatkan peserta didik secara langsung di lingkungan sekolah.(Ben)


















