Kabupaten Tangerang, Fixsnews.co.id ,- Mei (23) menceritakan proses persalinan yang kakaknya alami di bulan Desember tahun lalu. Menurut penuturannya, Mei dan kakaknya memang sudah menjadi peserta JKN selama kurang lebih 5 tahun dan sudah sering menggunakan kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk berobat penyakit ringan seperti demam, batuk dan pilek. Kakaknya terdaftar sebagai peserta PBI JK (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan) yang berada di kelas 3 merasa program JKN sangat membantu ia dan keluarganya terutama saat proses persalinan tahun lalu.
Mei mengisahkan pengalaman kakaknya ketika menjalani proses persalinan. Menurut Mei, persalinan tersebut berlangsung secara normal dan seluruh biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Program JKN. Keluarga tidak dibebankan biaya apa pun sejak proses persalinan hingga pemulangan, sesuatu yang menurut Mei sangat meringankan keluarganya.
Beberapa hari setelah proses persalinan, kondisi kesehatan sang bayi sempat membuat keluarga cemas. Selama dua hari, bayi tidak dapat buang air kecil. Melihat kondisi tersebut, keluarga segera membawa bayi kembali ke fasilitas Kesehatan (faskes) di klinik. Pihak klinik bertindak cepat dengan memberikan pendampingan administrasi. Bayi langsung didaftarkan sebagai peserta PBI JK, mengikuti segmen ibunya. Prosesnya dinilai Mei sangat mudah karena cukup menggunakan Kartu Keluarga saja untuk proses pendaftaran bayi.
Setelah proses pendaftaran bayi berhasil, klinik mengeluarkan rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Saat di rumah sakit, dokter segera melakukan penanganan. Mei menceritakan bahwa bayi dipantau secara berkala, dan dokter menyampaikan bahwa bayi mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Akhirnya sebagai langkah medis, bayi diberikan susu formula secara teratur agar kebutuhan cairannya terpenuhi.
Selang satu hari, bayi sudah dapat buang air kecil. Selama masa rawat inap, bayi memperoleh obat, vitamin, serta susu formula, semuanya tanpa dipungut biaya berkat Program JKN.
Walaupun kakaknya merupakan peserta rawat inap kelas 3, Mei menuturkan bahwa bayi justru ditempatkan di ruangan khusus bayi bersama bayi-bayi lain yang juga membutuhkan pengawasan. Menurutnya, pelayanan yang diberikan tetap baik, nyaman, dan sesuai kebutuhan medis bayi.
Bagi Mei, yang paling mengesankan bukan hanya penanganan medisnya, tetapi juga kemudahan administrasinya. Seluruh proses—mulai dari pendaftaran bayi sebagai peserta PBI JK hingga rujukan ke rumah sakit—berjalan lancar dan cepat, tanpa prosedur yang berbelit.
Di akhir ceritanya, Mei menyampaikan harapannya agar Program JKN terus berkembang, semakin maju, dan terus menjadi penopang masyarakat Indonesia dalam mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, mudah, dan terjangkau. (***/01).


















