Caption: Josua Pardede dan Dayu Dara Permata dalam media talk show “Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026”, yang sekaligus menandai peluncuran laporan Pinhome Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 dan Outlook 2026.
JAKARTA, Fixsnews.co.id – Semester II 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi pasar properti nasional. Tekanan sosial, ekonomi, hingga politik berdampak langsung pada daya beli dan prioritas belanja masyarakat.
Data terbaru dari Pinhome dalam laporan Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026 mencatat penurunan signifikan inventori rumah primer.
Rata-rata penambahan inventori rumah baru bulanan turun hingga minus 14 persen. Sebaliknya, inventori rumah sekunder tumbuh rata-rata 5 persen per bulan sepanjang semester II 2025.
Wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan masing-masing menyumbang 8 persen dari total penambahan inventori rumah seken.
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menyebut tekanan ekonomi sepanjang 2025 menjadi salah satu faktor meningkatnya listing rumah sekunder.
“Gelombang PHK dan kenaikan biaya hidup mendorong sebagian pemilik properti melepas aset untuk menjaga likuiditas,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Hal ini terlihat dari maraknya label “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat” di berbagai platform properti.
Permintaan Terkonsentrasi di Kawasan Industri
Pinhome mencatat kontras tren antara kawasan industri dan kawasan residensial komuter.
Cikarang mencatat pertumbuhan permintaan hingga 16 persen pada Semester II 2025 dibanding semester sebelumnya.
Sebaliknya, kawasan komuter di Bekasi mengalami koreksi, seperti Tambun (-22%) dan Cibitung (-9%).
Fenomena ini menunjukkan kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja menjadi prioritas utama pembeli.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai kebutuhan hunian tetap kuat meski sektor real estat melambat.
“Pemulihan sangat ditentukan keterjangkauan, kepastian kebijakan, dan akses pembiayaan,” ujarnya.
KPR Sekunder Melampaui Primer
Dari sisi pembiayaan, minat terhadap KPR rumah sekunder kini melampaui rumah primer.
Skema Take Over dan Top Up mendominasi hingga 74 persen transaksi, disertai kecenderungan memilih tenor lebih panjang guna menjaga arus kas rumah tangga.
Strategi ini dipilih untuk menghindari beban ganda antara cicilan dan sewa pada rumah inden.
Optimisme 2026
Memasuki 2026, pasar masih dibayangi dinamika global, termasuk konflik geopolitik dan volatilitas pasar keuangan.
Namun Pinhome dan Permata Bank optimistis peluang pemulihan tetap terbuka.
Di regional Sumatera, indeks permintaan rumah meningkat signifikan, seperti di Kota Palembang (+24%) dan Kota Pekanbaru (+23%) pada Desember 2025.
Operasional Whoosh turut mendorong kenaikan pencarian properti di Bandung Timur. Kawasan Cileunyi naik 18 persen dan Rancaekek melonjak 31 persen dibanding Semester II 2024.
Pertumbuhan juga terlihat di Maluku Utara (+11%) dan Sulawesi Tengah (+8%) seiring ekspansi industri pengolahan nikel.
“Tantangan terbesar tetap pada keterjangkauan dan distribusi hunian. Kolaborasi kebijakan pembiayaan dan infrastruktur menjadi kunci,” tutup Josua.(Red)


















