Caption: Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid meminta seluruh camat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan menjaga kondusivitas wilayah menyusul prediksi musim kemarau hingga September 2026.
KABUPATEN TANGERANG – Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid meminta seluruh camat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan serta menjaga kondusivitas wilayah menyusul prediksi musim kemarau yang masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Instruksi tersebut disampaikan dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Tangerang di Aula Pendopo Bupati Tangerang, Kamis (6/8/2026).
Dalam rapat tersebut, Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Forkopimda membahas langkah koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi dampak musim kemarau sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Bupati Maesyal meminta para camat terus berkoordinasi dengan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), termasuk kepolisian, TNI, dan pemerintah desa, untuk memantau perkembangan situasi di wilayah masing-masing.
“Pak camat saya minta terus berkoordinasi dengan Pak Kapolsek, Pak Danramil, serta para kepala desa untuk memonitor kondisi masyarakat di wilayah masing-masing. Jika ada informasi atau isu yang berpotensi mengganggu kondusivitas, segera lakukan pendekatan dan komunikasi yang baik kepada masyarakat,” ujar Maesyal.
Ia juga mengingatkan agar peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum memperkuat persatuan dan menjaga ketertiban masyarakat.
“Agustusan harus menjadi renungan dan kebanggaan kita dalam mengenang perjuangan para pahlawan, jangan dijadikan momentum untuk hal-hal yang dapat mengganggu ketertiban,” tegasnya.
BMKG: 12 Kecamatan Berstatus Waspada Kekeringan
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat 12 kecamatan di Kabupaten Tangerang yang masuk kategori waspada akibat curah hujan sangat rendah.
Kecamatan tersebut meliputi:
Balaraja
Cisoka
Kresek
Kronjo
Mauk
Pakuhaji
Rajeg
Sepatan
Sindang Jaya
Sukadiri
Sukamulya
Teluknaga
Wilayah-wilayah tersebut, terutama di bagian utara Kabupaten Tangerang, diperkirakan masih mengalami minim curah hujan hingga akhir Oktober 2026.
BMKG juga mencatat sejak 17 Juni hingga 2 Agustus 2026 atau selama 46 hari, sebagian wilayah tersebut tidak mengalami hujan. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG berencana melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengurangi dampak kekeringan.
BPBD Diminta Siapkan Penanganan Air Bersih
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Bupati Maesyal meminta seluruh camat segera mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau, mulai dari kekurangan air bersih, meningkatnya debu, hingga potensi keretakan tanah yang dapat memicu bencana ketika hujan kembali turun.
Ia juga meminta segera diterbitkan Surat Keputusan Bupati mengenai penanganan dampak El Nino, dengan BPBD Kabupaten Tangerang sebagai koordinator penanganan di lapangan.
“Khusus penanganan kekurangan air bersih, saya minta segera disiapkan Surat Keputusan Bupati tentang penanganan dampak El Nino. BPBD menjadi koordinator penanganan di lapangan dan berkoordinasi dengan PDAM, Pertamina maupun instansi terkait lainnya untuk memastikan distribusi air bersih kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik,” katanya.
Bupati juga menginstruksikan para camat segera melaporkan kepada BPBD apabila ditemukan wilayah yang mengalami kekurangan pasokan air bersih agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, perangkat kecamatan, pemerintah desa, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Kabupaten Tangerang tetap aman dan mampu menghadapi dampak musim kemarau.
Wabup Intan Ingatkan Bahaya Pembakaran Sampah
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah meminta seluruh camat meningkatkan pengawasan terhadap praktik pembakaran sampah liar yang berpotensi memicu kebakaran saat musim kemarau.
Menurutnya, wilayah seperti Sindang Jaya dan Rajeg masih memerlukan pengawasan lebih intensif karena masih ditemukan aktivitas pembakaran sampah maupun lahan.
“Kondisi kemarau membuat potensi kebakaran semakin tinggi. Saya minta para camat terus melakukan monitoring, khususnya di wilayah yang masih sering terjadi pembakaran liar seperti Sindang Jaya dan Rajeg. Berikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak lagi melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan,” ujar. (Nan)


















