BMKG Temukan Indikasi Likuefaksi dan Jejak Tsunami Flores Pasca-Gempa Nagekeo

oleh

Caption; BMKG merilis hasil survei pasca-gempa dan tsunami Flores 2026. Gelombang tsunami setinggi hingga 2,68 meter merusak 23 rumah warga di Nagekeo, namun tak menimbulkan korban jiwa.

NAGEKEO, Fixsnews.co.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis hasil survei lapangan pasca-gempa dan tsunami yang mengguncang kawasan pesisir utara Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski gelombang tsunami merusak 23 rumah warga, dipastikan tidak ada korban jiwa berkat respons cepat masyarakat dalam melakukan evakuasi mandiri.

Gempa bumi dangkal dengan kedalaman 15 kilometer tersebut berpusat di 30 km timur laut Nagekeo pada 15 Agustus 2026. Pemicunya yakni aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik (thrust fault). BMKG merespons cepat dengan menerbitkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik pasca-guncangan utama.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, melaporkan bahwa survei pada 15–25 Agustus 2026 mendeteksi guncangan maksimum hingga VII MMI di lima kabupaten terdampak. Selain itu, BMKG menemukan indikasi fenomena likuefaksi (sand boil) di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

“Hasil survei tsunami menunjukkan tinggi run-up tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama, disusul Tadho Tengah 2,42 meter, Dusun Tompong 2,39 meter, dan Nangadero 2,24 meter. Sementara jangkauan genangan terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang,” ujar Teguh Rahayu dalam keterangannya.

Gelombang tsunami merusak 23 rumah warga, termasuk dua rumah yang tersapu laut di Desa Selama. Kerusakan juga melanda pemukiman warga di Dusun Nampar, Desa Tadho, dan Desa Nangadero.

Sementara itu, Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG, Rahmat Triyono, menekankan pentingnya kesadaran evakuasi mandiri bagi masyarakat pesisir utara NTT. Karakteristik gelombang dari Flores Back-Arc Thrust dapat tiba di daratan sangat cepat, bahkan bisa mendahului atau bersamaan dengan Peringatan Dini BMKG.

“Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami. Maka, penting untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir utara NTT untuk melakukan evakuasi mandiri,” tegas Rahmat.

Seluruh data pemantauan dan hasil survei teknis ini diserahkan kepada pemerintah daerah dan lembaga terkait sebagai acuan dasar merealisasikan proses rehabilitasi serta rekonstruksi wilayah yang aman dan berkelanjutan.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *