Caption; British International Investment (BII) berkomitmen menggelontorkan pendanaan iklim sebesar US$1,6 miliar untuk mendukung transisi energi hijau di Asia Tenggara dalam lima tahun ke depan.
JAKARTA, Fixsnews.co.id– Lembaga pembiayaan pembangunan dan investor berdampak asal Inggris, British International Investment (BII), mengumumkan komitmen pendanaan iklim sebesar US$1,6 miliar untuk kawasan Asia Tenggara. Komitmen besar ini disampaikan bertepatan dengan peringatan lima tahun pembukaan kantor pusat regional Asia di Singapura.
Dana tersebut ditujukan untuk membantu negara-negara berkembang di Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand, dalam beralih dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil beremisi tinggi menuju sistem energi berbasis energi terbarukan.
Dari total US$1,6 miliar yang akan diinvestasikan selama lima tahun ke depan, sekitar setengahnya bersumber dari modal BII, sementara sisanya dihimpun dari investor swasta.
British Climate Partners (BCP)—inisiatif pendanaan iklim yang diluncurkan BII pada awal tahun ini—akan menjadi salah satu saluran utama penyaluran modal tersebut, khususnya untuk berinvestasi di negara-negara Asia dengan pertumbuhan ekonomi dan tingkat emisi karbon tinggi.
Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, menegaskan bahwa krisis iklim merupakan masalah keamanan nasional yang membutuhkan perhatian segera dari berbagai pihak.
“Krisis iklim merupakan masalah keamanan nasional yang membutuhkan perhatian segera. Karena itu, pemerintah Inggris memiliki agenda terdepan di dunia dalam upaya mengatasi krisis iklim, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional,” ujar Ed Miliband.
Ia juga menyatakan kebanggaannya atas peran BII dalam membantu negara-negara di Asia Tenggara membangun perekonomian yang lebih bersih dan tangguh, serta mendorong investasi swasta yang lebih besar guna mencapai target iklim dan pembangunan.
Chief Executive Officer BII, Leslie Maasdorp, dalam peluncuran strategi lima tahun terbaru perusahaan di Singapura, menegaskan fokus utama lembaganya di kawasan ini.
“Satu-satunya fokus kami untuk kawasan Asia Tenggara adalah mendanai proyek-proyek di bidang pendanaan iklim yang akan berkontribusi pada masa depan ekonomi kawasan yang bersih dan berkelanjutan,” kata Leslie.
Ia menambahkan, krisis iklim merupakan tantangan global yang tidak mengenal batas negara. Oleh karena itu, komitmen ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan sekaligus menurunkan emisi dan memberikan imbal hasil bagi pembayar pajak di Inggris.
Pada periode 2023–2025, BII sebelumnya telah berkomitmen menyediakan hampir US$400 juta untuk pendanaan iklim di Asia Tenggara. Investasi tersebut mencakup kemitraan dengan ib vogt, Skye Renewables, Asian Development Bank, VPBank, HDBank, dan Xurya, serta sejumlah dana investasi seperti Green Investment Partnership dari Pentagreen Capital, SUSI Asia Energy Transition Fund dari Gresham House, dan 100×100 Impact Fund I.
BII berinvestasi di berbagai sektor penting untuk mengurangi emisi dan membangun ketahanan iklim, mencakup pembangkit dan transmisi energi terbarukan, infrastruktur kendaraan listrik (EV), pengelolaan limbah, serta infrastruktur air. Investasi ini diperkirakan menambah kapasitas energi bersih sebesar 1,8 GW dan menghindari emisi karbon hingga hampir 1,7 juta ton.
Portofolio infrastruktur dan iklim BII di Asia Tenggara sejauh ini telah mendukung kapasitas energi bersih terpasang sekitar 358 MW, menghasilkan lebih dari 556.000 MWh listrik dari energi terbarukan, menghindari emisi karbon sekitar 368.000 ton, serta menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja langsung maupun operasional.
Srini Nagarajan, Managing Director sekaligus Head of Asia BII, menambahkan bahwa lembaganya akan terus memperkuat posisi sebagai penyedia modal strategis di kawasan.
“Dalam lima tahun ke depan, kami akan mengalokasikan modal dalam jumlah yang jauh lebih besar untuk memperluas peluang pendanaan iklim dan mempercepat transisi menuju ekonomi hijau,” pungkas Srini.(red)


















