Caption:British International Investment meluncurkan British Climate Partners senilai £1,1 miliar untuk percepat transisi energi di Asia dan mobilisasi investasi swasta.
INDONESIA, Fixsnews.co.id— British International Investment (BII) meluncurkan British Climate Partners (BCP) senilai £1,1 miliar untuk mempercepat transisi energi di Asia, dengan fokus pada mobilisasi modal swasta dan pengurangan emisi di negara berkembang.
Inisiatif ini menargetkan negara dengan pertumbuhan energi tinggi seperti India, Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, dan Malaysia.
Asia saat ini menyumbang sekitar tiga perempat permintaan batu bara global pada 2024, menjadikannya pusat tantangan transisi energi dunia.
Kebutuhan investasi juga besar. Asia Tenggara memerlukan sekitar USD 210 miliar per tahun, sementara India membutuhkan setidaknya USD 160 miliar hingga 2030 untuk beralih ke energi bersih.
Melalui BCP, BII akan menggandeng investor swasta dengan skema pembiayaan ekuitas dan mezzanine. Skema ini bertujuan menekan risiko proyek tahap awal sekaligus meningkatkan daya tarik investasi komersial.
BII menargetkan 40 persen investasi barunya dalam lima tahun ke depan masuk kategori pembiayaan iklim, meningkat dari target sebelumnya sebesar 30 persen.
Jenny Chapman menyatakan pendekatan baru Inggris akan mengedepankan kemitraan jangka panjang berbasis investasi, bukan sekadar hibah, guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Dalam beberapa bulan terakhir, saya telah menekankan perlunya pendekatan baru Inggris dalam pembangunan – beralih dari hibah bantuan tradisional ke kemitraan jangka panjang yang menggabungkan investasi, keahlian, dan reformasi pembiayaan internasional. Ini juga berarti berinvestasi secara bertanggung jawab: memanfaatkan seluruh kekuatan yang dimiliki Inggris – mulai dari kerja sama melalui organisasi internasional dan instrumen investasi, hingga riset, saran praktis, dan diplomasi. Jika digunakan secara terpadu, hal ini dapat membantu bisnis berkembang, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung reformasi dan kebijakan yang dipilih oleh negara mitra. BII berada di pusat pendekatan ini dan strategi barunya sejalan dengan arah yang telah ditetapkan pemerintah. Saya yakin BII akan memimpin dalam mewujudkan ambisi bersama ini menjadi hasil nyata dalam lima tahun ke depan,” katanya.
Sementara itu, Srini Nagarajan menegaskan mobilisasi modal swasta menjadi kunci utama percepatan transisi energi di kawasan Asia.
“Transisi energi di Asia akan sangat bergantung pada mobilisasi modal swasta dalam skala besar, dan British Climate Partners dirancang untuk mewujudkan hal tersebut. Melalui inisiatif baru ini, kami akan memanfaatkan pengalaman, modal, dan kemitraan kami untuk membangun platform, mengurangi risiko proyek, serta menarik investasi jangka panjang ke peluang iklim yang layak secara komersial di seluruh kawasan,” katanya.
Selain itu, BII tetap mengalokasikan minimal 25 persen investasinya ke negara berkembang tahap awal sesuai kategori United Nations.
BII juga menargetkan dampak pasar yang lebih luas serta meningkatkan investasi berbasis gender, dengan target 30 persen memenuhi standar 2X Challenge.(red)


















