Caption; Fasilitator Ekspor PPEJP Kemendag Dede Saputra membeberkan 3 pilar utama dan strategi penting agar produk UMKM Indonesia berhasil menembus pasar ekspor global dalam ajang Bootcamp SETC Sampoerna.
JAKARTA, Fixsnews.co.id – Pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diminta mengubah pola pikir dari pendekatan produk (product centric) menjadi kebutuhan pembeli (buyer centric) untuk dapat menembus pasar ekspor global. Produk berkualitas tinggi tidak menjamin diterima pasar luar negeri jika tidak disertai pemahaman standar regulasi dan kebutuhan negara tujuan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Fasilitator Ekspor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan, Dede Saputra, pada sesi Export Bootcamp dalam rangkaian Bootcamp UMKM Untuk Indonesia (UUI) 2026 di Jakarta.
“Produk yang bagus saja tidak cukup. Buyer tidak hanya membeli produk tapi keberlanjutan dan kepatuhan pada regulasi di negaranya. Pengusaha UMKM harus paham bagaimana negara tujuan ekspor memutuskan dalam memilih pemasok,” ujar Dede.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) di bawah Payung Program Keberlanjutan ”Sampoerna untuk Indonesia” ini menghadirkan lebih dari 180 pelaku UMKM dari seluruh Nusantara.
Dede yang juga Tenaga Ahli Kemendag membeberkan tiga pilar pertimbangan utama buyer internasional dalam skema Business-to-Business (B2B):
Kepatuhan Regulasi dan Sertifikasi: Memenuhi kualifikasi kelayakan mutu untuk mencegah barang tertahan di bea cukai. Contohnya sertifikat GACC untuk pasar China dan standar FDA untuk Amerika Serikat.
Keandalan Pasokan Produk: Keberlanjutan kelancaran stok, pemenuhan SOP, serta konsistensi kualitas dalam jangka panjang.
Skema Perdagangan B2B: Keterbukaan rincian penetapan harga, kapasitas produksi bulanan, kemampuan mesin, hingga biaya pengiriman (forwarder).
“Perlu diingat untuk B2B, lebih dari 78% buyer mengeliminasi calon pemasok jika spesifikasi teknis, kualitas, sertifikasi food safety, kapasitas tidak tercantum secara transparan sejak awal,” tegas Dede.
Selain pilar B2B, Dede mengingatkan UMKM untuk menghindari empat kesalahan yang sering membuat produk ditolak pasar global:
Menggunakan materi promosi berbahasa Indonesia untuk pasar ekspor.
Membuat klaim palsu terkait kapasitas produksi.
Tidak menetapkan minimum order quantity (MOQ) yang jelas dan realistis.
Lambat merespons komunikasi akibat perbedaan zona waktu.
Saat ini, tiga komoditas UMKM Indonesia yang paling diminati di pasar internasional adalah kopi, cokelat, dan sepatu olahraga.(Red)


















