Mengapa Besi Beton SNI Sangat Krusial Saat Gempa Mengguncang? Ini Penjelasan Teknisnya

oleh

Caption; Pelaku konstruksi di Jawa Timur memperketat verifikasi mutu baja tulangan beton SNI 2052:2017 guna menekan risiko keruntuhan bangunan saat gempa. Pelajari standar BjTS 420A/B dan langkah verifikasinya.

SIDOARJO, FIXSNEWS.CO.ID — Potensi guncangan gempa bumi di Jawa Timur mendorong para pelaku konstruksi di Sidoarjo dan sekitarnya memperketat seleksi serta verifikasi mutu baja tulangan beton untuk proyek-proyek berisiko tinggi.

Langkah ini diambil karena ketahanan struktur bangunan saat terjadi gempa bumi sangat bergantung pada kualitas fisik material yang terpasang di lapangan, bukan sekadar hitungan perencanaan di atas kertas.

“Perhitungan struktur yang presisi di atas kertas tidak akan berfungsi optimal jika material baja tulangan yang terpasang di lapangan tidak memenuhi standar daktilitas SNI,” tegas perwakilan teknis CV Sentral Besi Pratama Putra di Sepanjang, Sidoarjo.

Menurutnya, penyimpangan mutu seperti ketebalan atau berat batang yang kurang sering kali tidak terlihat secara kasat mata di tumpukan material. Cacat baru berakibat fatal ketika struktur menerima beban siklik akibat gempa.

Dalam standar perencanaan gempa Indonesia, bangunan dirancang memiliki daktilitas tinggi—kemampuan menyerap energi gempa melalui deformasi terkendali agar tidak runtuh mendadak dan memberi waktu bagi penghuni untuk menyelamatkan diri.

Berdasarkan SNI 2052:2017 dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), tulangan sirip kelas 420 terbagi menjadi dua kelas: BjTS 420A dan BjTS 420B. Keduanya memiliki kuat leleh minimum 420 MPa, kuat tarik minimum 525 MPa, serta batas atas kuat leleh 545 MPa.

Perbedaannya terletak pada tingkat regangan (elongasi). Kelas BjTS 420B mensyaratkan elongasi lebih besar sehingga wajib digunakan pada Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) tahan gempa.

Untuk membedakannya di lokasi proyek, standar menetapkan penanda warna di ujung batang:

Warna Kuning: Menandai kelas BjTS 420A.

Warna Merah: Menandai kelas BjTS 420B.

Pengujian mutu di lapangan juga ditegaskan lebih akurat menggunakan timbangan daripada jangka sorong. Standar mengendalikan mutu melalui batas toleransi berat per batang:

Diameter 6–8 mm: Toleransi ±7%

Diameter 10–14 mm: Toleransi ±6%

Diameter 16–29 mm: Toleransi ±5%

Diameter di atas 29 mm: Toleransi ±4%

Para praktisi diimbau menjalankan lima langkah verifikasi sebelum pengecoran: mencocokkan surat jalan, memeriksa penanda warna, menimbang sampel acak, meminta sertifikat uji pabrik (mill certificate), serta mendokumentasikan hasil pengujian.(Dilli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *