Penulis : Dokter Karel Dourman Saragih HS, SpPD. Sp JP, FIHA
Caption:Puisi Sepucuk Surat karya dr. Karel Dourman Saragih menyoroti kemiskinan, empati, dan nurani sosial. Dokter jantung yang menyentuh jiwa lewat sastra.
SEPUCUK SURAT
Sepulang sekolah berjalan lunglai lewat padang ilalang
Angannya terbang pada uang
Tak kunjung datang
Kayu bakar sudah seminggu belum terjual
Atap rumbia kini sudah bocor lagi
Kuota berkabar
Menipis
Sekerat Ubi
Sejumput jagung sisa kemarin
Teronggok di atas meja disiapkan Ebbu fai renta untuk cucu terkasih
Makanan terakhir?
Rasa bersalah karena membebani ine
Terus bergema
Makin menyala
Hidup terlunta tanpa kejelasan arah
Adakah telinga yang dapat mendengar?
Elus cinta meraba sapa
Kejernihan mata ibu tempat berteduh
Telah lama hilang
Sepucuk surat
Ditulis gemetar berpeluh darah
Molo mama
Selamat tinggal mama
teman sekolah semua
Biarkan aku pergi jauh sendiri
Jalan hening sunyi menuju keabadian Ilahi
Dipilih
Bunuh diri
Banjir airmata landa persada
Bersama bulir hujan
Jatuh kian deras
Pagi ini kelas sepi
Murid dan guru tertunduk
Bumi meratap kelu
Rembulan tersaput awan
Kelam
Nurani petinggi-politisi negri masihkah bunyi?
Gusti Ampuni kami😭
Jkt020226
kareldhs_dr.k💐🥋🇲🇨
Sosok dr. Karel Dourman Saragih HS dikenal luas sebagai dokter spesialis penyakit dalam, jantung, dan pembuluh darah. Namun di luar dunia medis, ia juga aktif menulis puisi yang merekam realitas sosial dengan pendekatan empatik dan reflektif.
Melalui puisi Sepucuk Surat, Karel menggambarkan potret kehidupan seorang anak dari keluarga prasejahtera, tekanan ekonomi, keterbatasan akses, serta rasa bersalah yang berujung pada keputusan tragis. Puisi ini ditulis dengan bahasa lirih dan simbolik, menghadirkan kritik nurani terhadap lingkungan sosial dan kebijakan publik.
Karel memadukan ketelitian ilmiah seorang dokter dengan kepekaan rasa seorang penyair. Baginya, menulis bukan sekadar ekspresi, melainkan bentuk pengabdian kemanusiaan.
“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” ujar dr. Karel Dourman.
Saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, ia tetap produktif berkarya di tengah tekanan tugas medis. Dari perenungan tersebut lahir buku antologi puisi Refleksi Diri, yang merekam pergulatan hidup, kematian, dan harapan.
“Pandemi bukan hambatan bagi saya untuk terus berkarya. Justru melalui menulis, saya menemukan ketenangan dan kekuatan baru,” ungkapnya saat ditemui Fixsnews.co.id, Minggu (17/4/2022).
Menurut Karel, seni dan sains saling melengkapi. Puisi dapat menjadi terapi jiwa, menumbuhkan empati, dan memperkuat kemanusiaan—baik bagi penulis maupun pembaca.
Melalui karya-karyanya, dr. Karel Dourman menunjukkan bahwa dokter tidak hanya menyembuhkan dengan tindakan medis, tetapi juga melalui kata-kata yang menyentuh hati.(Ben)


















