Caption: Pemberlakuan penuh CBAM Uni Eropa mulai 2026 dinilai menekan ekspor baja Indonesia, khususnya baja karbon dan stainless non-captive dengan biaya karbon tinggi.
Jakarta, Fixsnews.co.id– Pemberlakuan penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa mulai Januari 2026 dinilai menjadi ujian struktural bagi keberlanjutan ekspor baja nasional, khususnya baja karbon dan stainless steel non-captive yang selama ini mengandalkan pasar Eropa.
Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo Setiadharmaji dari Steel & Mining Insights menilai dampak CBAM perlu dibaca dari perspektif pelaku industri, bukan sekadar data perdagangan agregat. Pendekatan agregat dinilai berisiko menutupi tekanan nyata pada segmen baja bernilai tambah tinggi.
CBAM dirancang sebagai mekanisme proteksi permanen dengan mengaitkan akses pasar langsung pada intensitas emisi karbon. Mulai 2026, eksportir baja wajib membeli sertifikat CBAM seiring naiknya harga karbon dan penghapusan bertahap izin emisi gratis di Uni Eropa.
Widodo mencatat, untuk baja karbon berbasis BF–BOF, beban CBAM diperkirakan mencapai €40–90 per ton, sementara stainless steel berbasis RKEF dapat menembus €470–630 per ton. Pada level tersebut, biaya karbon dinilai melampaui margin normal industri dan menghilangkan kelayakan ekspor ke Uni Eropa.
Secara agregat, porsi ekspor baja Indonesia ke Uni Eropa memang relatif kecil. Namun untuk produk semi-finished dan finished non-captive, pangsa pasar Uni Eropa mencapai sekitar 18% dari total ekspor baja Indonesia periode 2024 hingga YTD September 2025. Segmen ini mencakup pelaku seperti Krakatau Steel Group (Krakatau Posco).
Krakatau Steel Tekankan Perlindungan Industri Nasional
Menanggapi kondisi tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk / Krakatau Steel Group (IDX: KRAS) menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara agenda dekarbonisasi dan keberlanjutan industri nasional.
Direktur Utama Krakatau Steel Dr. Akbar Djohan menilai transisi menuju industri hijau harus disertai kebijakan yang adil dan terukur.
“Transisi menuju industri baja rendah karbon perlu dijalankan dengan sequencing dan timing kebijakan yang tepat agar tidak melemahkan basis industri strategis nasional sebelum transformasi itu sendiri berjalan optimal,” ujar Akbar Djohan.
Ia juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA).
Pasar Domestik Jadi Penyangga
Di tengah meningkatnya proteksionisme global, Krakatau Steel memandang penguatan pasar domestik sebagai penyangga utama industri baja nasional. Perlindungan pasar dalam negeri, pengendalian impor, serta peningkatan penggunaan produk baja nasional dinilai sejalan dengan Asta Cita Presiden RI dalam memperkuat kemandirian industri dan ketahanan ekonomi.(Ben)


















