Harga Bitcoin Melemah, FLOQ Sebut Suku Bunga The Fed hingga Geopolitik Jadi Pemicu

oleh

Caption: Harga Bitcoin turun ke kisaran US$63.900 setelah menembus support US$64.000. FLOQ mengungkap tiga faktor utama yang menekan pasar kripto, mulai dari kebijakan The Fed hingga konflik Timur Tengah.

JAKARTA, Fixsnews.co.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan dan diperdagangkan di kisaran US$63.900 pada 30 Juli 2026. Dalam sepekan terakhir, aset kripto terbesar di dunia itu terkoreksi sekitar 2,7 persen dan sempat menyentuh level terendah US$62.785, sekaligus menembus area support penting di US$64.000.

Berdasarkan Market Outlook FLOQ, pelemahan Bitcoin dipengaruhi kombinasi faktor makroekonomi, geopolitik, dan teknikal. Tiga faktor utama yang membayangi pasar yakni meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta melemahnya struktur teknikal Bitcoin setelah menembus level support.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan investor saat ini cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

“Pasar sedang menghadapi kombinasi tekanan makroekonomi, geopolitik, dan teknikal secara bersamaan. Penembusan level US$64.000 menjadi penting karena menunjukkan bahwa sentimen pasar belum cukup kuat untuk mempertahankan momentum pemulihan Bitcoin,” kata Yudhono.

The Fed Tahan Suku Bunga, Sentimen Pasar Tetap Hawkish

Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen pada pertemuan 29 Juli 2026. Keputusan tersebut merupakan kali kelima berturut-turut suku bunga dipertahankan.

Meski demikian, pasar justru menilai kebijakan tersebut masih bernada hawkish. Tiga pejabat regional The Fed memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kisaran 54–63 persen dalam dua pekan sebelumnya.

Menurut Yudhono, investor perlu melihat arah kebijakan secara menyeluruh, bukan hanya keputusan mempertahankan suku bunga.

“Kata ‘menahan’ tidak selalu berarti dovish. Komposisi voting dan pernyataan The Fed justru memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga masih tinggi, ruang penguatan aset kripto kemungkinan tetap terbatas,” jelasnya.

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak

Tekanan terhadap pasar kripto juga datang dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut laporan FLOQ, jeda konflik yang dimulai pada 27 Juli hanya berlangsung sekitar dua hari sebelum kembali terjadi eskalasi. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Harga Brent naik sekitar 3,42 persen menjadi US$86,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 3,58 persen menjadi US$82,09 per barel.

Kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat memicu tekanan inflasi global sehingga memperkuat peluang bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

“Dalam jangka pendek, harga minyak menjadi salah satu indikator eksternal yang perlu diperhatikan investor kripto. Apabila konflik terus mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, kekhawatiran inflasi dapat meningkat dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko,” ujar Yudhono.

Arus Dana ETF Bitcoin Mulai Kehilangan Momentum

Dari sisi institusional, produk ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat masih mencatat arus dana masuk selama tiga pekan berturut-turut.

Hingga pekan yang berakhir sekitar 24 Juli 2026, ETF Bitcoin membukukan net inflow US$33,8 juta.

Namun, tren tersebut berbalik pada akhir pekan dengan arus keluar sekitar US$225,1 juta pada Kamis dan US$240 juta pada Jumat, sehingga memutus tren positif selama tujuh hari.

Di sisi lain, ETF Ethereum mencatat arus masuk mingguan sekitar US$104 juta, atau hampir tiga kali lebih besar dibandingkan ETF Bitcoin. Kondisi ini mengindikasikan adanya rotasi modal ke Ethereum meski belum dapat dipastikan menjadi tren jangka panjang.

“Arus dana ETF menunjukkan minat institusional belum menghilang, tetapi tingkat sensitivitasnya terhadap kebijakan suku bunga masih sangat tinggi. Investor besar terlihat lebih selektif dan cepat melakukan penyesuaian menjelang rilis data ekonomi penting,” kata Yudhono.

Bitcoin Diproyeksikan Bergerak di Kisaran US$62.800–US$65.700

Secara teknikal, level US$62.800 menjadi area support terdekat setelah Bitcoin kehilangan level US$64.000.

Sementara itu, area US$65.700 hingga US$66.500 menjadi zona resistensi yang perlu ditembus untuk membuka peluang pemulihan harga.

Menurut Yudhono, Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi pada jangka pendek.

“Selama Bitcoin belum mampu kembali dan bertahan di atas US$65.700, pasar masih berisiko mengalami tekanan lanjutan. Sebaliknya, level US$62.800 menjadi area penting karena apabila ditembus secara konsisten dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam,” ungkapnya.

Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat pada awal Agustus, termasuk ISM Manufacturing PMI, ADP Employment Report, ISM Services PMI, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pada 7 Agustus 2026.

Menurut Yudhono, data-data tersebut akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah kebijakan hawkish The Fed masih mendapat dukungan dari kondisi ekonomi Amerika Serikat.

“Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan arah pasar hanya berdasarkan satu indikator. Kondisi saat ini membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih disiplin karena data tenaga kerja, harga minyak, dan perkembangan geopolitik dapat memicu perubahan sentimen secara cepat,” tutupnya.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi aset digital, FLOQ juga menyediakan platform edukasi FLOQ Academy yang berisi materi mengenai investasi aset kripto, teknologi blockchain, hingga Web3 untuk masyarakat.(Ben)

Disclaimer

Informasi ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 30 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga. Informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan, penawaran, atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual aset kripto tertentu. Investor disarankan melakukan riset mandiri (DYOR) serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *