Caption;Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak ke Tangerang dan memicu PJJ. Akademisi menyoroti penguatan kompetensi guru melalui program SPAB.
TANGERANG,Fixsnews.co.id— Kebijakan Dinas Pendidikan Kota Tangerang dalam membangun kompetensi guru menghadapi bencana kembali menjadi sorotan setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak ke wilayah Kota Tangerang.
Pemerintah Kota Tangerang sebelumnya mengambil langkah antisipasi dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) setelah adanya informasi mengenai sebaran abu vulkanik. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan dari potensi dampak erupsi.
Namun, respons tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana guru dan tenaga kependidikan di Kota Tangerang telah dibekali kompetensi menghadapi bencana sesuai Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Pendidikan kebencanaan tidak hanya berkaitan dengan keputusan menghentikan pembelajaran tatap muka.
Dalam kondisi darurat, guru juga dituntut memahami prosedur keselamatan, melakukan evakuasi, memberikan informasi yang tepat kepada peserta didik, serta menjaga keberlangsungan layanan pendidikan.
Baca juga;Warga Ciledug Merasa Belum Merdeka dari Bau Sampah dan Krisis Air Bersih
Program SPAB memiliki landasan hukum, antara lain Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana.
Petunjuk teknis program tersebut juga diperinci melalui Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek Nomor 6 Tahun 2023.
Dalam Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019, pemerintah daerah memiliki kewajiban meningkatkan kemampuan pelaksana urusan pemerintahan daerah bidang pendidikan, pendidik, dan tenaga kependidikan mengenai penyelenggaraan SPAB.
Sementara itu, Juknis SPAB 2023 memperinci pengembangan kapasitas melalui sejumlah langkah. Di antaranya pelatihan dan pendampingan, lokakarya secara rutin, penyiapan fasilitator SPAB, penyediaan media informasi dan edukasi, serta penguatan kemitraan dengan pihak terkait.
Karena itu, sosialisasi kebencanaan perlu dibedakan dari pengembangan kompetensi yang dilakukan secara sistematis.
Akademisi dan praktisi pendidikan di Banten, Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak., CSRS., CTA., turut menyoroti implementasi SPAB di Kota Tangerang.
Suripto yang merupakan Ketua Program Studi Sarjana Akuntansi Universitas Pamulang (UNPAM) dan aktif di Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Banten menyampaikan pandangannya saat dihubungi media Fixsnews.co.id, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Suripto, Pemerintah Kota Tangerang telah menunjukkan sejumlah langkah konkret dalam penyelenggaraan SPAB.
Langkah tersebut antara lain edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, serta kebijakan PJJ ketika terjadi risiko abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Namun, menurut dia, SPAB tidak cukup hanya melalui sosialisasi atau PJJ.
Sesuai Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 dan Juknis SPAB melalui Persesjen Nomor 6 Tahun 2023, pengembangan kapasitas juga mencakup pelatihan dan pendampingan, penyiapan fasilitator, simulasi secara berkala, penyediaan sarana keselamatan, pemetaan risiko, serta monitoring dan evaluasi.
“Karena itu, PJJ akibat abu vulkanik saya melihatnya sebagai bagian dari respons terhadap situasi bencana, bukan keseluruhan implementasi SPAB. Ukuran keberhasilan SPAB justru terletak pada kesiapan sekolah sebelum bencana terjadi,” ujar Suripto.
Ia menilai setiap unsur memiliki fungsi berbeda dalam membangun kesiapsiagaan sekolah.
“Sosialisasi membangun pengetahuan, pelatihan membangun keterampilan, simulasi membangun kesiapsiagaan, dan evaluasi memastikan semuanya berjalan,” katanya.
Suripto juga mengapresiasi langkah Pemkot Tangerang dalam merespons risiko abu vulkanik.
Menurutnya, ke depan yang perlu diperkuat adalah memastikan kesiapsiagaan tersebut diterapkan secara sistematis dan merata di seluruh satuan pendidikan.
Dengan demikian, respons terhadap bencana tidak hanya dilakukan ketika ancaman sudah muncul, tetapi juga dibangun melalui kesiapan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, serta satuan pendidikan sebelum kondisi darurat terjadi.(Ben)
















