Keterangan Foto: Dirjen DJSPSK Herman Saherrudin, P.hD beserta Jajaran pejabat Kementerian Keuangan, pimpinan Yayasan Sasmita Jaya, dan Rektorat Universitas Pamulang berfoto bersama usai pembukaan Kuliah Umum LIKE IT.
DJSPSK Kemenkeu bersama BI, OJK, dan LPS membekali 3.500 mahasiswa Unpam literasi keuangan digital guna mencegah ancaman pinjol ilegal dan investasi bodong.
TANGERANG SELATAN, Fixsnews.co.id — Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, Ph.D., menekankan krusialnya pemahaman literasi finansial bagi generasi muda di tengah pesatnya era digitalisasi. Pesan tersebut disampaikan di hadapan 3.500 mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) dalam Kuliah Umum dan Talkshow “Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT)” di Auditorium Darsono, Unpam, Tangerang Selatan, Rabu (23/9/2026).
Sinergi antara Kementerian Keuangan, otoritas sektor keuangan, dan Unpam ini digelar untuk membentengi mahasiswa dari ancaman kejahatan finansial digital, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong.
Dalam kuliah umum bertajuk ”Cerdas dan Bijak Mengelola Keuangan di Era Digital”, Herman mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan kendali atas keputusan finansial tetap berada di tangan pengguna.
“Teknologi memudahkan, kita yang menentukan hasilnya,” tegas Herman di hadapan ribuan peserta.
Ia menambahkan bahwa esensi literasi keuangan tidak sekadar menghafal istilah ekonomi, melainkan membentuk pola pikir serta perilaku yang bijak.
“Esensi literasi bukan sekadar mengetahui, melainkan memahami agar mampu memilih dan bertindak secara bijak. Hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijak,” pesannya.
Inisiatif edukasi ini mendapat apresiasi dari pimpinan kampus. Ketua Yayasan Sasmita Jaya, Dr. Pranoto, SE., MM., menyatakan bahwa program ini sejalan dengan misi yayasan dalam mencetak lulusan yang mandiri secara finansial.
Sementara itu, Rektor Unpam, Dr. E. Nurzaman AM., MM., M.Si., menyoroti kerentanan mahasiswa terhadap gaya hidup konsumtif dan kejahatan finansial.
“Mahasiswa kerap menjadi sasaran empuk kejahatan finansial karena minimnya literasi. Pemahaman keuangan adalah tameng utama. Mahasiswa harus mampu membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan, bukan sekadar keinginan,” ujar Nurzaman.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi Talkshow LIKE IT yang menghadirkan perwakilan empat pilar otoritas keuangan nasional, yakni Kemenkeu, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Direktur Pengembangan Dana Pensiun, Asuransi, dan Aktuaria Kemenkeu, Yani Farida Aryani, menyoroti pentingnya proteksi finansial sejak dini melalui mitigasi risiko dan pemahaman fungsi dana pensiun maupun asuransi.
Dari pihak BI, Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan, Indra Gunawan, mendorong peran aktif mahasiswa untuk menjadi investor yang cerdas di pasar keuangan nasional.
Selanjutnya, Plt. Direktur Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, Andi Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa tingkat literasi yang baik menjadi benteng utama dari jebakan investasi bodong dan pinjol ilegal.
Sementara itu, Direktur Group Pemeriksaan Bank LPS, Junior Renhard B. Simorangkir, memastikan bahwa LPS hadir untuk menjamin keamanan simpanan nasabah di perbankan nasional.
Selain pemaparan materi di auditorium, area lobi Kampus Unpam Viktor turut diramaikan pameran interaktif. Deretan booth dari BLU Kemenkeu (LPDP dan LDKPI), empat otoritas keuangan, serta Bank Himbara memfasilitasi mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai perencanaan keuangan dan akses beasiswa. (Ben)


















