Caption:Biaya logistik Indonesia masih mencapai 14,9% dari PDB dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Daniel Budi Setiawan, CEO muatmuat, mengungkap empat penyebab utama dan menawarkan solusi digital untuk menekan biaya logistik nasional.
JAKARTA, Fixsnews.co.id— Biaya logistik Indonesia mencapai 14,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya yang tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas standar negara maju yang hanya berkisar 8–9%. Kondisi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi daya saing ekonomi nasional.
Ir. Daniel Budi Setiawan, CEO PT AZLogistik Dot Com (muatmuat), menegaskan bahwa tingginya biaya logistik mencerminkan rendahnya efisiensi rantai pasok nasional. Dampaknya sangat terasa pada harga barang yang semakin tidak kompetitif, baik di pasar lokal maupun global.
“Angka 14,9% ini sangat membebani. Biaya tersebut akhirnya ditransfer ke harga jual produk, membuat barang-barang kita kurang kompetitif di pasar global,” ujar Daniel.
Empat Faktor Utama yang Membuat Biaya Logistik RI Mahal
Berdasarkan pengalaman Daniel memimpin perusahaan transportasi besar PT Siba Surya, terdapat empat penyebab utama yang selama puluhan tahun terus membebani industri logistik nasional.
1. Proteksi Industri Truk dan Oligopoli
Selama lebih dari lima dekade, truk asal Jepang seperti Hino, Fuso, Isuzu, dan Nissan Diesel mendapat proteksi yang membuat harga truk melonjak. Bea masuk 35–45% terhadap kendaraan komersial memperkuat posisi oligopoli.
“Kalau mereka sepakat menaikkan harga, pasar tidak punya pilihan lain,” tegas Daniel.
2.. Tarif Tol yang Mahal
Berbeda dengan banyak negara maju yang menjadikan pajak kendaraan sebagai hak akses jalan bebas hambatan, Indonesia masih memberlakukan sistem tol berbayar. Tarifnya dinilai membebani transporter, terutama untuk pengiriman jarak jauh.
3. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Impor suku cadang dan bahan bakar membuat biaya operasional sangat sensitif terhadap pelemahan Rupiah. Setiap perubahan kurs langsung berdampak pada kenaikan ongkos logistik.
4. Regulasi dan Birokrasi yang Rumit
Pelaku logistik harus menghadapi pajak ganda, KIR, perizinan berlapis, serta koordinasi antar-instansi yang tidak efisien. Hal ini memperpanjang waktu distribusi sekaligus menambah biaya.
Peran Swasta: Digitalisasi untuk Memangkas Biaya
Meski sebagian persoalan bersifat makro, Daniel menilai sektor swasta masih memiliki ruang untuk meningkatkan efisiensi.
Melalui platform muatmuat, ia menghadirkan solusi digital untuk menurunkan biaya logistik secara langsung.
Langkah efisiensi yang ditawarkan antara lain:
1. Optimasi Utilisasi Armada
Fitur Transport Market memungkinkan pencocokan muatan secara real-time, sehingga mengurangi truk kosong (empty return).
2. Transparansi Pasar Logistik
Platform ini menghubungkan pengirim (shipper) dan transporter tanpa perantara.
Hasilnya: biaya markup berkurang, distribusi lebih cepat, dan proses lebih transparan.
3. Digitalisasi Suku Cadang melalui muatparts
Marketplace muatparts menyediakan suku cadang dengan harga lebih kompetitif sehingga menekan biaya operasional truk.
“Efisiensi akan tercapai lewat data yang terbuka dan kolaborasi. Semakin terhubung pelaku logistik nasional, semakin sehat industrinya,” ungkap Daniel dalam podcast bersama Helmy Yahya.
Menurut Daniel, industri logistik adalah arena yang keras dan menuntut disiplin tinggi.
“Yang bisa survive adalah mereka yang punya dedikasi penuh dan mental petarung,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelaku logistik sebenarnya mampu berkembang, asalkan proses bisnis dibuat lebih sederhana, efisien, dan terukur. Dari semangat itulah muatmuat lahir sebagai alat bantu bagi pelaku industri untuk meningkatkan pendapatan sekaligus menurunkan biaya operasional.(ben)


















