Pemerintah Bangun Arsitektur Riset Berbasis Problem Statement untuk Ketahanan Energi

oleh

Caption: Kemendiktisaintek gandeng Dewan Energi Nasional dan MIND ID perkuat riset berbasis problem statement untuk hilirisasi mineral dan swasembada energi nasional. Anggaran riset naik jadi Rp12 triliun pada 2025.

JAKARTA – Pemerintah memperkuat agenda hilirisasi mineral dan swasembada energi nasional melalui arsitektur riset berbasis problem statement yang melibatkan industri dan Dewan Energi Nasional.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membuka kolaborasi strategis dengan Dewan Energi Nasional (DEN) serta pelaku industri, termasuk MIND ID sebagai mitra kunci.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Aziman, menegaskan riset nasional kini diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata industri dan tantangan strategis negara.

“Penelitian berbasis pemecahan masalah tidak hanya datang dari kampus, tetapi juga dari industri, BUMN, dan Dewan Energi Nasional. Apa yang menjadi perhatian DEN dan industri seperti MIND ID, itulah yang kami dorong menjadi fokus penelitian,” ujarnya dalam sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 di Jakarta.

Penguatan arsitektur riset tersebut diperkuat dengan kenaikan anggaran riset nasional dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun pada 2025 atau meningkat 50 persen.

Anggaran ini difokuskan untuk mempercepat penguasaan teknologi di sektor strategis, terutama hilirisasi mineral dan ketahanan energi.

Menurut Fauzan, tanpa penguasaan teknologi, Indonesia akan terus berada pada posisi eksportir bahan mentah dan bergantung pada impor teknologi.

Ia menilai MIND ID memiliki peran sentral karena mengonsolidasikan sejumlah entitas utama seperti PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, PT Timah Tbk dan
PT Vale Indonesia Tbk.

Konsolidasi tersebut menjadikan MIND ID sebagai jangkar pengamanan pasokan energi sekaligus penguatan ekosistem hilirisasi nasional.

“Kapabilitas teknologi dan kemampuan adaptasi industri terhadap disrupsi akan menentukan keberhasilan hilirisasi dan ketahanan energi,” kata Fauzan.

Pemerintah juga menyiapkan integrasi riset dengan pengembangan sumber daya manusia agar adaptif terhadap perkembangan teknologi global.

Melalui pendekatan berbasis kebutuhan industri ini, hilirisasi mineral dan pengembangan energi nasional diharapkan tidak hanya bertumpu pada investasi fisik, tetapi juga diperkuat oleh riset dan penguasaan teknologi dalam negeri.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *