Indonesia Punya Cadangan Tembaga Besar, DPR Dorong Hilirisasi untuk Industri Amunisi

oleh

Caption:Indonesia memiliki 3 persen cadangan tembaga dunia namun masih mengimpor bahan baku amunisi. DPR mendorong hilirisasi tembaga untuk memperkuat industri pertahanan nasional.


JAKARTA, Fixsnews.co.id– Indonesia tercatat menguasai sekitar 3 persen cadangan tembaga dunia, namun masih bergantung pada impor bahan baku amunisi dari luar negeri.

Kondisi tersebut mendorong sinergi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan guna membangun kemandirian industri strategis nasional dari hulu hingga hilir.

Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, Indonesia berada di peringkat ketujuh cadangan tembaga dunia dan posisi ke-11 dalam produksi tambang.

Namun, industri hilir tembaga Indonesia masih tertinggal dan berada di posisi ke-18 dunia, di bawah Jepang, India, Korea Selatan, hingga Bulgaria yang tidak memiliki sumber daya tembaga.

Salah satu produk hilir strategis yang kini menjadi perhatian adalah brass cup, bahan baku selongsong amunisi yang selama ini masih dipenuhi melalui impor.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menilai hilirisasi tembaga memiliki posisi penting dalam memperkuat industri pertahanan nasional.

Menurutnya, pengolahan tembaga secara terintegrasi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista), amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis lainnya.

“Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,” ujar Dave.

Urgensi hilirisasi tersebut juga terlihat dari tren impor tembaga dan produk turunannya yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai impor tembaga dan turunannya tumbuh rata-rata 5,11 persen per tahun selama periode 2021–2025.

Nilainya meningkat dari US$1,90 miliar atau naik kumulatif 15,27 persen.

Dave optimistis hilirisasi yang dijalankan secara konsisten mampu membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing.

Ia menegaskan Komisi I DPR RI akan terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dalam pengembangan hilirisasi tembaga nasional.

“Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional,” tambahnya.

Di sisi produksi, langkah konkret mulai dilakukan oleh Holding Industri Pertambangan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia yang bekerja sama dengan Holding Industri Pertahanan DEFEND ID melalui PT Pindad.

Kerja sama tersebut akan memproduksi brass cup di Gresik dengan kapasitas mencapai 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.

Selain itu, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun.

Seluruh produk tersebut akan menggunakan bahan baku katoda tembaga hasil produksi PT Freeport Indonesia.

Produk hilirisasi tembaga itu nantinya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri pertahanan yang membutuhkan komponen berbasis tembaga.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *