Ketika Uang Jajan Menjadi Pelajaran Pertama tentang Akuntansi dan Pajak

oleh
Oleh: Deti Mulyati, Anissa Fitriyah, Apriliyanti, Rara Adinda Nayla (Mahasiswa
Program Studi Akuntansi, Universitas Pamulang)

 

Caption:Mahasiswa Universitas Pamulang menggelar program EDU-AKPA di SMP Islam Raudlatul Hikmah, Tangerang Selatan, untuk mengenalkan akuntansi dasar, pengelolaan uang jajan, dan pajak guna meningkatkan literasi keuangan siswa sejak dini.

 

“Baru dua hari menerima uang jajan, kok sudah habis?”

Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar biasa di banyak keluarga Indonesia. Namun, di balik keluhan sederhana tersebut tersimpan persoalan yang jauh lebih besar, yaitu rendahnya literasi keuangan pada anak dan remaja. Tidak sedikit siswa menghabiskan uang sakunya tanpa mengetahui ke mana uang tersebut digunakan. Mereka belum terbiasa mencatat pengeluaran, menyusun prioritas kebutuhan, ataupun memahami nilai uang sebagai sumber daya yang harus dikelola.

Persoalan ini tidak dapat dianggap sepele. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan finansial seseorang terbentuk sejak usia sekolah. Kemampuan mengelola uang pada masa remaja berkorelasi dengan perilaku keuangan pada masa dewasa, termasuk kebiasaan menabung, berinvestasi, hingga kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Dengan kata lain, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan berhitung, melainkan bagian dari pembentukan karakter dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Atas dasar itulah mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui kegiatan EDU-AKPA (Edukasi Akuntansi dan Pajak) di SMP Islam Raudlatul Hikmah, Kota Tangerang Selatan pada awal Mei 2026. Program ini bertujuan mengenalkan konsep dasar akuntansi dan pajak kepada siswa melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Akuntansi Dimulai dari Uang Jajan

Selama ini akuntansi sering dipersepsikan sebagai ilmu yang identik dengan perusahaan, laporan keuangan, atau profesi akuntan. Padahal, esensi akuntansi jauh lebih sederhana, yaitu proses mencatat, mengelompokkan, dan memahami transaksi keuangan agar seseorang mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Dalam kegiatan EDU-AKPA, siswa tidak diajak menghafal teori, melainkan memahami akuntansi melalui pengalaman mereka sendiri. Uang jajan menjadi contoh paling nyata. Setiap hari mereka menerima uang, menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, atau kebutuhan sekolah, tetapi sebagian besar belum pernah mencatat ke mana uang tersebut dibelanjakan.

Melalui simulasi sederhana, siswa mulai menyadari bahwa pencatatan pengeluaran membantu mereka mengetahui pola konsumsi dan mengendalikan kebiasaan belanja. Pendekatan kontekstual seperti ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) lebih efektif dibandingkan metode ceramah semata karena peserta didik menghubungkan konsep dengan realitas yang mereka alami.

 

 

Persamaan Akuntansi yang Ternyata Dekat dengan Kehidupan

Materi berikutnya memperkenalkan persamaan dasar akuntansi: Harta = Utang + Modal. Bagi sebagian orang, rumus tersebut terdengar rumit. Namun, ketika dijelaskan melalui contoh uang saku, tabungan, telepon genggam, atau sepeda yang dimiliki siswa, konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami.

Siswa juga diajak membedakan antara harta yang benar-benar dimiliki, utang yang harus dikembalikan kepada teman, dan modal berupa tabungan pribadi. Pendekatan sederhana ini menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar kumpulan angka, tetapi cara berpikir yang sistematis dalam mengelola sumber daya.

Kemampuan memahami hubungan antara harta, kewajiban, dan kepemilikan sejak dini diharapkan menjadi fondasi bagi perilaku keuangan yang lebih sehat pada masa mendatang.

 

 

Dari Struk Belanja Menuju Kesadaran Pajak

Salah satu sesi yang paling menarik adalah ketika siswa diminta mengamati struk belanja minimarket. Benda yang biasanya langsung dibuang ternyata menyimpan informasi penting mengenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Banyak siswa baru mengetahui bahwa sebagian dari harga barang yang mereka bayarkan merupakan pajak yang kemudian digunakan negara untuk membiayai berbagai kebutuhan publik. Kesadaran ini menjadi titik awal pemahaman bahwa pajak bukan sekadar angka dalam struk belanja, melainkan bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Diskusi kemudian berkembang mengenai manfaat pajak dalam kehidupan sehari-hari. Jalan yang mereka lalui menuju sekolah, fasilitas kesehatan yang digunakan masyarakat, hingga ruang kelas tempat mereka belajar merupakan contoh nyata pembangunan yang sebagian pembiayaannya berasal dari penerimaan pajak. Ketika pajak dijelaskan melalui pengalaman yang mereka rasakan langsung, konsep yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami.

 

 

Membangun Karakter Finansial Sejak Dini

Literasi keuangan pada dasarnya bukan bertujuan mencetak akuntan atau petugas pajak sejak bangku sekolah. Tujuan utamanya adalah membentuk kebiasaan berpikir yang bijak dalam mengelola sumber daya.

Anak yang terbiasa mencatat pengeluaran akan lebih mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mereka belajar menunda konsumsi yang tidak penting, menyusun prioritas, serta memahami bahwa setiap keputusan finansial memiliki konsekuensi.

Berbagai studi internasional juga menunjukkan bahwa pendidikan literasi keuangan sejak usia sekolah berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan pengambilan keputusan ekonomi, pengendalian perilaku konsumtif, serta kesiapan menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Karena itu, pendidikan akuntansi dan pajak tidak seharusnya dipandang sebagai materi yang hanya relevan di perguruan tinggi atau dunia kerja.

 

 

Investasi Pendidikan yang Berdampak Jangka Panjang

Program EDU-AKPA memberikan pelajaran penting bahwa membangun literasi keuangan tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit ataupun materi yang kompleks. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: mencatat uang jajan, memahami arti sebuah struk belanja, mengenali perbedaan antara harta dan utang, serta menyadari bahwa pajak merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dan derasnya arus konsumsi digital, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu kecakapan hidup yang semakin penting dimiliki generasi muda. Sekolah, perguruan tinggi, keluarga, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama untuk menghadirkan pendidikan finansial yang kontekstual, praktis, dan mudah dipahami.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.