Pengguna AI Meningkat, Brand Kini Harus Bersaing Masuk Jawaban ChatGPT dan Gemini

oleh

Caption: Laporan Capgemini mengungkap 58 persen konsumen kini menggunakan AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini untuk mencari rekomendasi produk. Avonetiq meluncurkan AVO AI guna membantu perusahaan mengukur visibilitas brand di platform AI.

JAKARTA, Fixsnews.co.id– Persaingan digital tidak lagi hanya ditentukan oleh posisi di mesin pencari. Meningkatnya penggunaan artificial intelligence (AI) generatif seperti ChatGPT dan Gemini membuat perusahaan kini harus memastikan mereknya muncul dalam jawaban AI agar tetap dipertimbangkan konsumen.

Perubahan perilaku tersebut terungkap dalam laporan terbaru Capgemini yang menunjukkan bahwa 58 persen konsumen telah menggunakan AI generatif sebagai pengganti mesin pencari tradisional untuk mencari rekomendasi produk dan layanan. Angka tersebut melonjak dari 25 persen pada 2023. Selain itu, 71 persen responden menginginkan AI terintegrasi dalam pengalaman pencarian dan belanja mereka.

Kondisi ini menandai perubahan besar dalam strategi pemasaran digital. Jika sebelumnya perusahaan berfokus pada optimasi mesin pencari (SEO), iklan digital, dan peningkatan trafik situs web, kini visibilitas di platform AI menjadi faktor yang semakin menentukan.

Berbeda dengan mesin pencari yang menampilkan banyak hasil pencarian, AI generatif umumnya hanya memberikan beberapa rekomendasi yang dianggap paling relevan dan memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Konsekuensinya, peluang sebuah brand untuk masuk dalam pertimbangan konsumen semakin dipengaruhi oleh apakah AI memilih merek tersebut sebagai jawaban.

Menurut Alexandro Wibowo, Partner Avonetiq, perubahan tersebut menciptakan tantangan baru bagi perusahaan.

“Berbeda dengan mesin pencari yang menampilkan puluhan hasil, AI biasanya hanya menampilkan beberapa brand yang dianggap paling relevan. Karena itu, muncul atau tidaknya sebuah brand dalam jawaban AI dapat memengaruhi peluang brand tersebut masuk ke tahap pertimbangan konsumen,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem AI tidak hanya mengandalkan popularitas suatu merek, tetapi juga mempertimbangkan berbagai indikator seperti konsistensi informasi, kredibilitas sumber, serta otoritas digital yang dimiliki sebuah perusahaan.

Selama ini perusahaan relatif mudah memantau posisi kata kunci di mesin pencari, performa kampanye digital, maupun trafik situs web secara real time. Namun, sebagian besar perusahaan belum memiliki alat untuk mengetahui bagaimana AI memahami dan memanfaatkan informasi mengenai merek mereka ketika menjawab pertanyaan pengguna.

“Perusahaan belum memiliki cara untuk memahami apakah AI benar-benar mempertimbangkan brand mereka ketika menjawab pertanyaan pengguna. Kesenjangan inilah yang mulai muncul di era AI Search,” kata Alexandro.

Menjawab kebutuhan tersebut, Avonetiq memperkenalkan AVO AI, sebuah platform yang dirancang untuk menganalisis jawaban dari berbagai platform AI generatif guna mengukur seberapa sering suatu merek dipilih, direkomendasikan, atau disebutkan dalam berbagai konteks pencarian.

Menurut Alexandro, platform tersebut dikembangkan agar perusahaan dapat memahami bagaimana AI menilai sebuah merek sekaligus mengetahui aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan peluang direkomendasikan.

AVO AI menggunakan dua indikator utama, yaitu Authority Score dan Visibility Score.

Authority Score mengukur tingkat kepercayaan AI terhadap sebuah merek berdasarkan kualitas informasi digital, konsistensi data, serta validasi dari media, situs resmi, maupun sumber independen yang kredibel.

Sementara itu, Visibility Score menunjukkan seberapa sering sebuah brand muncul dalam jawaban AI untuk berbagai topik dan kategori yang relevan dengan bisnisnya.

Melalui kedua metrik tersebut, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai bagaimana AI memahami, menilai, dan menggunakan informasi tentang merek mereka ketika memberikan jawaban kepada pengguna.

Selain itu, perusahaan juga dapat mengetahui pada pertanyaan apa kompetitor lebih sering direkomendasikan serta faktor yang memengaruhi keputusan AI tersebut.

“Perusahaan tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga memahami faktor yang mempengaruhi visibilitas brand di AI,” jelas Alexandro.

Ia menilai bahwa kemampuan memantau visibilitas di platform AI akan menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran modern, sebagaimana SEO dan analitik digital menjadi standar industri selama dua dekade terakhir.

“Dulu brand bertanya apakah mereka muncul di halaman pertama mesin pencari. Kini pertanyaannya berubah menjadi apakah AI memilih brand mereka sebagai jawaban. Seiring meningkatnya penggunaan AI untuk mencari informasi dan rekomendasi, monitoring visibility akan menjadi metrik yang semakin penting bagi brand,” tutupnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *