Kebun Rancabali Jadi Sorotan Media Amerika, Tradisi Teh Indonesia Diabadikan

oleh

Caption; Media Amerika Serikat melalui The Tea Trail menyoroti Kebun Rancabali PTPN I Regional 2 dan perjalanan teh Indonesia dari perkebunan hingga dikenal dunia.

BANDUNG, Fixsnews.co.id — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 menjadi sorotan media asal Amerika Serikat melalui proyek dokumenter The Tea Trail. Tim Lost In Space Media melakukan peliputan khusus di Kebun Rancabali, Kabupaten Bandung, untuk mengangkat perjalanan teh Indonesia dari perkebunan hingga menjadi sajian yang dikenal dunia.

Peliputan berlangsung pada Selasa (28/7) dan dilakukan langsung pendiri Lost In Space Media, Connor Space, bersama timnya.

Mereka merekam berbagai aktivitas di Kebun Rancabali, mulai dari proses pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, hingga kisah para pekerja yang mempertahankan tradisi pengelolaan teh secara turun-temurun.

Connor Space mengatakan Kebun Rancabali dipilih karena memiliki kombinasi nilai yang kuat, mulai dari lanskap alam, kualitas teh, hingga sejarah panjang perjalanan komoditas teh di Indonesia.

“Rancabali memiliki cerita yang sangat istimewa. Tempat ini bukan hanya menawarkan pemandangan alam yang luar biasa, tetapi juga menghasilkan teh dengan kualitas yang baik dan memiliki hubungan erat dengan sejarah masuk serta berkembangnya teh di Indonesia. Kami ingin membawa cerita ini kepada masyarakat dunia bahwa di balik secangkir teh terdapat perjalanan panjang manusia, alam, dan budaya,” ujar Connor Space.

Menurut Connor, The Tea Trail merupakan perjalanan untuk memahami bagaimana teh menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Dokumenter tersebut juga ingin menunjukkan bahwa produk yang terlihat sederhana memiliki nilai sejarah, keterampilan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

“Kami melihat teh bukan hanya sebagai minuman, tetapi sebagai bagian dari peradaban. Dari lapangan pemetikan hingga proses pengolahan, ada cerita tentang dedikasi manusia, hubungan dengan lingkungan, dan tradisi yang mampu bertahan melewati perubahan zaman,” ungkapnya.

Selain mengeksplorasi proses produksi teh, tim Lost In Space Media juga mengunjungi kawasan wisata yang berada di lingkungan PTPN I Regional 2.

Lanskap perkebunan Rancabali menjadi salah satu daya tarik yang menunjukkan bahwa kawasan perkebunan memiliki fungsi lebih luas.

Selain menjadi pusat produksi, kawasan tersebut juga dapat menjadi ruang edukasi, konservasi, dan wisata berbasis alam.

Connor Space menjelaskan, Lost In Space Media hadir untuk menggali nilai dari tempat dan praktik yang telah bertahan selama berabad-abad.

Di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi, pihaknya menilai masih banyak pelajaran dari kearifan manusia dan tradisi yang terus dijaga.

“Kami percaya bahwa masa depan tidak harus meninggalkan masa lalu. Justru dari warisan dan praktik yang telah bertahan lama, kita dapat menemukan inspirasi mengenai keberlanjutan, ketangguhan, dan keseimbangan hidup,” tambahnya.

Lost In Space Media merupakan kolektif para petualang dan penutur cerita yang mengangkat berbagai kisah dunia melalui film, fotografi, tulisan, dan percakapan.

Karya-karya mereka berfokus pada pertemuan antara tradisi dan teknologi, keahlian manusia dan inovasi, serta warisan budaya dengan masa depan.

Bagi PTPN I, peliputan internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi perkebunan Indonesia kepada masyarakat dunia.

Kebun Rancabali tidak hanya menjadi penghasil teh berkualitas, tetapi juga merepresentasikan sejarah panjang perkebunan nasional yang memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.

Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN Group, PTPN I terus mendorong transformasi perkebunan melalui peningkatan produktivitas, penguatan keberlanjutan, serta pengembangan potensi kawasan agroindustri dan agrowisata.

Melalui pendekatan tersebut, perkebunan Indonesia diharapkan terus menghadirkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi komoditas nasional di tingkat global.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *