Caption; PTPN I terus mengelola Kebun Kopi Ijen Bondowoso warisan abad ke-19, memadukan potensi ekonomi, kelestarian ekologi, hingga pengembangan wisata agro.
BONDOWOSO, Fixsnews.co.id – PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group) terus mengoptimalkan pengelolaan Kebun Kopi Arabika Ijen di lereng Pegunungan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, sebagai warisan sejarah, penggerak ekonomi warga, sekaligus aset ekologis kawasan, Sabtu (26/9/2026).
Rintisan perkebunan kopi di kawasan tersebut telah dimulai sejak tahun 1890-an oleh pengusaha asal Belanda, Gerhard David Birnie, di kawasan Blawan dan berlanjut ke area Kalisat/Jampit pada 1927 sebelum akhirnya dinasionalisasi menjadi aset negara.
Berada di ketinggian 1.100 hingga 1.550 meter di atas permukaan laut (mdpl), kawasan ini menghasilkan kopi Arabika khas Bondowoso bersertifikat Indikasi Geografis yang dikenal luas di pasar internasional sebagai Java Coffee.
“Bagi PTPN I, Kebun Ijen merupakan aset dengan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis sekaligus. Perkebunan menghasilkan komoditas, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, sekaligus memelihara pengetahuan,” tulis rilis resmi PTPN Group, Sabtu (26/9/2026).
Selain menjaga kualitas olahan kopi Arabika berkarakter keasaman khas dan aroma bernuansa cokelat, PTPN I mempertahankan ekosistem kawasan dengan tanaman penaung seperti suren, dadap, hingga pinus sebagai catchment area penyerapan air.
Kehadiran perkebunan ini juga terus menghidupi rantai ekonomi masyarakat lokal serta pekerja lintas daerah mulai dari Bondowoso, Banyuwangi, Jember, hingga Malang yang telah membentuk pemukiman dan kultur sosial khas di kawasan Ijen.
Menghadapi tantangan industri perkebunan modern, PTPN I memproyeksikan pengembangan nilai tambah kopi Ijen melalui strategi hilirisasi produk, edukasi kopi, penguatan merek, hingga optimalisasi potensi wisata agro berbasis sejarah seperti cagar budaya Jampit Guest House.
Jejak sejarah dari perkebunan kopi ini menjadi cikal bakal budaya masyarakat lokal yang sangat kuat. Bisa dibayangkan, pada akhir abad 18, di belantara lereng gunung dengan ketinggian sekira 1.500 meter dari permukaan laut, infrastruktur jalan yang entar masih seperti apa, para pengusaha asal Negeri Wilhelmina itu sudah menembus tempat itu.
Di lereng Pegunungan Ijen, kopi bukan sekadar tanaman. Ia adalah sejarah, pengetahuan, pekerjaan, lingkungan, dan sumber penghidupan masyarakat. Jejak Gerhard David Birnie membuka perkebunan Blawan, yang kala itu dikenal sebagai Mount Blau berlanjut dengan pembukaan perkebunan Kalisat/Jampit pada 1927.
Dari kawasan inilah kopi Ijen berkembang menjadi komoditas yang dikenal hingga pasar Eropa. Waktu berganti, pemerintahan berubah, dan perusahaan-perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi. Pengelolaan perkebunan kemudian beralih kepada negara dan menjadi bagian dari perjalanan panjang perkebunan negara hingga kini berada dalam ekosistem PT Perkebunan Nusantara I (Persero) sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group).
Sejarah itu terasa berbeda ketika dilihat langsung dari tengah perkebunan. Di atas kertas, sejarah mungkin hanya berupa tahun dan nama. Namun, di Ijen, sejarah hadir dalam bangunan tua, jalan perkebunan, tanaman kopi, dan kehidupan orang-orang yang setiap hari bekerja di dalamnya. Di sinilah makna perkebunan negara menjadi lebih luas dari sekadar angka produksi.
Kebun Ijen bukan hanya tempat menanam dan memanen kopi. Ia merupakan ruang ekonomi yang mempertemukan pekerja, masyarakat sekitar, pelaku usaha, pengolah hasil, hingga mata rantai distribusi. Dari pemeliharaan tanaman, pemanenan, pengolahan hingga distribusi, perkebunan menciptakan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
Ada pekerja yang menggantungkan pendapatan dari kebun. Ada keluarga yang kehidupannya tumbuh bersama musim kopi. Ada pula pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, keberadaan perkebunan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak kopi yang dihasilkan. Di balik setiap produksi terdapat nilai sosial yang jauh lebih Panjang, yakni kesempatan kerja, perputaran ekonomi masyarakat, serta pengetahuan yang terus dipelihara.(Dilli)

















