Caption;Bitcoin melonjak lebih dari 20 persen hingga menembus US$79.000. Treasury buyback, short squeeze, dan inflow ETF ikut mendorong reli.
JAKARTA,Fixsnews.co.id— Harga Bitcoin melonjak lebih dari 20 persen dalam sepekan, dari level di bawah US$64.000 pada 19 Agustus 2026 hingga menembus US$79.000.
Berdasarkan data CoinMarketCap, kenaikan tersebut terjadi dalam waktu singkat dan memunculkan pertanyaan mengenai faktor yang mendorong reli Bitcoin.
Salah satu pemicunya disebut berkaitan dengan kebijakan buyback obligasi pemerintah Amerika Serikat oleh Departemen Keuangan AS atau Treasury.
Treasury buyback merupakan mekanisme ketika pemerintah AS membeli kembali surat utang yang telah beredar di pasar menggunakan dana tunai yang dimilikinya.
Pada 19 Agustus 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan nilai pembelian kembali obligasi jangka panjang dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi mulai September.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga membuka peluang peningkatan skala buyback tersebut pada masa mendatang.
Kebijakan ini umumnya digunakan untuk menjaga likuiditas dan kelancaran perdagangan di pasar obligasi, terutama pada seri lama yang semakin jarang diperdagangkan.
Pembelian kembali obligasi juga dapat membantu meredam kenaikan yield yang terlalu tinggi sehingga tekanan terhadap biaya utang pemerintah dan pasar keuangan dapat berkurang.
Lalu, bagaimana kebijakan tersebut berkaitan dengan Bitcoin?
Ketika pemerintah membeli obligasi dalam jumlah besar, permintaan terhadap surat utang meningkat. Harga obligasi cenderung naik, sementara yield bergerak turun.
Dalam kondisi tersebut, daya tarik instrumen aman seperti Treasury dapat berkurang dibandingkan aset dengan profil risiko lebih tinggi.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pasar juga dapat membaca kebijakan tersebut sebagai sinyal bertambahnya likuiditas dalam sistem keuangan.
Secara historis, kondisi likuiditas yang lebih longgar kerap menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
“Kebijakan ini menurunkan imbal hasil obligasi yang sempat melonjak tajam, dan pasar membacanya sebagai sinyal ekspansi likuiditas, yang secara historis selalu direspons positif oleh BTC,” ujar Yudho dalam pernyataan tertulis, Rabu (26/8/2026).
Optimisme pasar semakin kuat karena pada hari yang sama dengan pengumuman buyback, Presiden AS Donald Trump juga menjamu sejumlah eksekutif industri kripto di Gedung Putih.
Kombinasi faktor likuiditas dan sinyal politik tersebut menambah ekspektasi positif terhadap arah kebijakan AS terhadap aset digital.
Short Squeeze hingga Inflow ETF Perkuat Reli
Meski demikian, Treasury buyback bukan satu-satunya faktor yang mendorong Bitcoin hingga melampaui US$79.000.
Yudho mengatakan reli kali ini didorong sejumlah faktor yang terjadi hampir bersamaan.
Salah satunya adalah short squeeze di pasar derivatif.
Ketika Bitcoin menembus rentang US$65.000-US$72.000, sejumlah posisi short atau taruhan terhadap penurunan harga mulai mengalami likuidasi secara paksa.
Nilai likuidasi tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar hingga US$6,4 miliar dalam beberapa hari.
Gelombang likuidasi itu disebut menjadi salah satu yang terbesar sejak November 2021.
Karena mayoritas posisi yang ditutup merupakan taruhan bearish, proses likuidasi menciptakan tekanan beli tambahan dan mempercepat kenaikan harga Bitcoin.
Dorongan lainnya datang dari investor institusional.
ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus masuk harian US$517 juta pada 19 Agustus 2026, tertinggi sejak awal Mei.
Lonjakan inflow tersebut menunjukkan minat investor institusional terhadap Bitcoin kembali meningkat.
Bitcoin Rawan Koreksi Setelah Reli Tajam
Di tengah optimisme pasar, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi jangka pendek.
Data internal FLOQ mencatat Bitcoin sempat kesulitan menembus area resistance US$79.400-US$81.000.
Pada saat yang sama, indikator Relative Strength Index (RSI) harian telah memasuki zona overbought.
Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan harga berlangsung sangat cepat dan mulai rentan terhadap aksi ambil untung.
“Diperkirakan koreksi wajar ke kisaran US$75.000-76.000 usai kenaikan secepat ini, bahkan ada yang mewaspadai potensi penurunan lebih dalam ke US$67.000-70.000 jika tekanan jual meningkat,” kata Yudho.
Sinyal kehati-hatian juga terlihat dari pasar futures Bitcoin yang berada dalam kondisi backwardation, yakni ketika harga kontrak berjangka berada di bawah harga spot.
Menurut Yudho, kondisi tersebut dapat mengindikasikan sebagian aktivitas pembelian belakangan ini merupakan strategi basis trade, bukan sepenuhnya taruhan bullish terhadap kenaikan Bitcoin dalam jangka panjang.
Setelah reli tajam, perhatian pasar kini beralih ke kebijakan moneter Amerika Serikat.
Investor akan mencermati pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pada 27-29 Agustus 2026.
Penampilan tersebut menjadi salah satu agenda penting karena merupakan kehadiran perdananya dalam forum tersebut sebagai Ketua The Fed.
Nada pidato Warsh, baik dovish, netral maupun hawkish, berpotensi memengaruhi arah Bitcoin dalam jangka pendek.
Pasar juga akan menghadapi sejumlah agenda penting pada September, termasuk voting RUU Clarity Act pada 15 September dan keputusan suku bunga The Fed pada 16 September.
Kenaikan Bitcoin hingga menembus US$79.000 tidak hanya dipengaruhi satu faktor.
Treasury buyback memberikan dorongan dari sisi likuiditas, sementara short squeeze, masuknya dana institusional, dan optimisme terhadap arah kebijakan AS turut memperkuat reli.
Kini, perhatian pasar tertuju pada kemampuan Bitcoin mempertahankan momentum di atas US$79.000 atau menghadapi koreksi setelah kenaikan yang berlangsung sangat cepat.(Red)


















