Harga Emas Masih Kuat, Analis Dupoin Peringatkan Potensi Koreksi Jangka Pendek

oleh

Caption: Harga emas dunia (XAU/USD) masih bertahan dalam tren bullish meski berisiko koreksi jangka pendek. Analis Dupoin memetakan level support dan resistance penting emas hari ini.

Jakarta,FIXSNEWS.CO.ID – Harga emas dunia (XAU/USD) masih menunjukkan ketahanan yang kuat dan berpeluang melanjutkan tren kenaikan, meski dibayangi risiko koreksi jangka pendek. Sentimen pasar global, terutama dari data ekonomi Amerika Serikat serta perkembangan geopolitik, menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas saat ini.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai bahwa secara teknikal, emas masih berada dalam fase bullish. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi yang dapat terjadi dalam waktu dekat seiring meningkatnya aksi ambil untung.

Pada perdagangan Selasa (16/12), harga emas sempat berbalik arah setelah pasar merespons laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan sektor tenaga kerja. Kondisi tersebut mendorong emas menguat hingga menyentuh level tertinggi harian di sekitar US$4.335.

Meski demikian, tekanan aksi profit taking membuat harga emas kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 0,23%, dengan posisi bertahan di kisaran US$4.296.

Andy Nugraha menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average masih mencerminkan dominasi pembeli di pasar emas. Struktur pergerakan harga dinilai tetap sehat selama XAU/USD mampu bertahan di atas area support penting.

Untuk perdagangan hari ini, Andy memproyeksikan bahwa jika tekanan beli berlanjut, harga emas berpotensi menguji area resistance di sekitar US$4.348. Namun, kegagalan menembus level tersebut berisiko memicu koreksi teknikal dengan potensi penurunan awal menuju support US$4.294.

Sentimen Fundamental dan Geopolitik

Pada perdagangan Rabu (17/12), emas tercatat bergerak menguat secara terbatas dan diperdagangkan di kisaran US$4.315, setelah sempat menyentuh level terendah harian di sekitar US$4.271.

Penguatan ini terjadi seiring pasar kembali mencerna laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) yang menunjukkan hasil beragam. Jumlah angkatan kerja meningkat di atas ekspektasi, sementara tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak 2021.

Data tersebut membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter lanjutan, meski probabilitas pemangkasan suku bunga pada Januari 2026 masih relatif rendah, yakni di kisaran 25%.

Di sisi lain, data Penjualan Ritel AS yang stagnan secara bulanan mengindikasikan tekanan konsumsi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok serta dampak kebijakan tarif impor.

Sementara itu, meredanya ketegangan geopolitik global turut menahan laju penguatan emas. Kemajuan perundingan damai antara Rusia dan Ukraina, yang dimediasi Amerika Serikat, mengurangi minat investor terhadap aset safe haven. Pernyataan optimistis dari pejabat Ukraina serta Presiden AS Donald Trump turut membatasi arus dana ke emas.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi AS, Klaim Pengangguran Awal, serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Andy Nugraha menilai, selama ketidakpastian kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global masih berlanjut, harga emas berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek.(Ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *