Saat Ludruk Menyatukan Warga: Antusiasme Tegalwangi Jadi Bukti Budaya Lokal Tetap Hidup

oleh

Caption;Ribuan Warga Tegalwangi Padati Lapangan, Ludruk Buktikan Budaya Lokal Masih Dicintai Generasi Muda

JEMBER, Fixsnews.co.id– Di tengah derasnya arus digitalisasi dan menjamurnya berbagai hiburan modern, kesenian tradisional ludruk ternyata masih mampu memikat hati masyarakat. Pemandangan itu terlihat jelas di Lapangan Kembang Setaman, Desa Tegalwangi, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Sabtu (13/6/2026), saat pertunjukan Ludruk Baru Muntjul sukses menyedot perhatian warga.

Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak berbaur memenuhi area pertunjukan. Mereka rela meluangkan waktu untuk menikmati suguhan seni tradisional yang kini semakin jarang ditemui.

Malam itu, lakon “Sogol Kompak Pager Gunung” tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya persatuan, kekompakan, dan gotong royong dalam menjaga kehidupan bermasyarakat.

Antusiasme warga menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Di tengah dominasi gawai dan media sosial, banyak generasi muda justru memilih berkumpul bersama keluarga dan tetangga untuk menyaksikan pertunjukan yang menjadi warisan budaya Jawa Timur tersebut.

Ludruk sendiri dikenal sebagai seni pertunjukan khas Jawa Timur yang memadukan drama, lawakan, musik tradisional, serta kritik sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Keberadaannya menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Kegiatan ini merupakan persembahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bersama DPRD Provinsi Jawa Timur sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan seni budaya daerah. Dukungan juga datang dari Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, H. Deni Prasetya, yang selama ini aktif mendorong pelestarian budaya lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui Ketua Tim Pemanfaatan Kebudayaan, Kartika Widyawati, M.I.Kom., menegaskan bahwa ludruk bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas masyarakat Jawa Timur.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan agar generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya leluhur,” ujarnya.

Hal senada disampaikan tokoh pemuda Desa Tegalwangi, Anwarul Ikhsan, S.Pt. Menurutnya, keberhasilan acara tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mendapat tempat istimewa di hati masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi kebanggaan bagi warga Tegalwangi. Kami berharap pertunjukan seni budaya seperti ini dapat terus digelar secara berkelanjutan agar generasi muda semakin mencintai budaya daerahnya,” katanya.

Membludaknya penonton malam itu menjadi bukti bahwa ludruk masih hidup di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar tontonan, ludruk menjadi ruang kebersamaan, sarana edukasi budaya, sekaligus perekat sosial yang menyatukan warga di tengah perubahan zaman.(Sofyan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *