Sentimen Global dan Penguatan Dolar AS Tekan Harga Minyak WTI

oleh

Caption: Harga minyak mentah WTI diperkirakan masih bergerak melemah pada perdagangan Senin (25/5/2026) akibat tekanan bearish, penguatan dolar AS, dan kekhawatiran perlambatan permintaan energi global.


Fixsnews.co.id- Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (25/5/2026). Sentimen negatif yang mendominasi pasar energi global dinilai masih menjadi faktor utama pelemahan harga minyak dunia.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyampaikan bahwa pergerakan harga WTI pada timeframe harian menunjukkan tren bearish yang semakin kuat. Tekanan jual disebut masih mendominasi pasar, terutama ketika harga gagal menembus area resistance penting.

Secara teknikal, kenaikan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir kerap tertahan di area resistance yang terbentuk dari level swing high sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih memanfaatkan momentum kenaikan untuk melakukan aksi jual.

Struktur harga juga mulai memperlihatkan pola tren turun baru setelah harga gagal mempertahankan momentum bullish dan kembali bergerak melemah mengikuti tren utama pasar.

Saat ini, level support penting WTI berada di kisaran US$89,89 per barel. Jika level tersebut berhasil ditembus, maka harga diperkirakan berpotensi turun menuju support berikutnya di area US$85,11 per barel.

Dari sisi indikator teknikal, stochastic masih bergerak turun dan mengonfirmasi momentum bearish yang sedang berlangsung. Kondisi ini menunjukkan peluang rebound masih terbatas selama tekanan jual tetap dominan.

Selain faktor teknikal, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi fundamental global. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia dinilai berpotensi menurunkan permintaan energi dalam waktu dekat.

Penguatan dolar Amerika Serikat turut menambah tekanan terhadap harga minyak mentah. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi negara dengan mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan global.

Pasar juga mencermati potensi peningkatan pasokan minyak dari negara-negara produsen utama, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan produksi dari kelompok OPEC+. Jika suplai meningkat di tengah permintaan yang melemah, tekanan bearish terhadap harga minyak diperkirakan akan semakin besar.

Di sisi lain, sentimen risk-off di pasar global membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti komoditas energi dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Dengan kombinasi tekanan teknikal dan fundamental tersebut, harga minyak WTI diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren penurunan dalam jangka pendek hingga menengah.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *