Penulis : Dokter Karel Dourman Saragih HS, SpPD. Sp JP, FIHA
Caption;Dokter spesialis jantung Karel Dourman Saragih merilis puisi ‘Di Batas’ yang menyentuh jiwa, memadukan ilmu medis dan sastra untuk menyuarakan kritik sosial dan karhutla.
DI BATAS
Di batas senja
Susuri jalan sunyi
Kereta laju berlari
Sawah hutan gunung bukit tandus berganti
Langit berselimut kabut
Persada menduka
Pohon ranggas bersaksi
Di batas kota
Antrian BBM di SPBU kian panjang
Berita korupsi berseri
Para politisi berpose koalisi
Di batas awan
Sekawan burung terbang
Hindari asap debu
Lama nian hujan tak turun
Hutan kini komoditi
Vox populi Vox dei
Sejarah terekam
Demokrasi dan legitimasi diuji
Di batas berita
Adipati dan singgasana
Kian tambun
Efisiensi
Retorika belaka
Trust barang bekas
Dijual bebas
Sensasi
Persada memerah
Karhutla lampui lintas
Bencana dibahas sekilas
Korban hanya angka
Biasa
Nol nol nol koma
Kala penguasa berkacamata kuda
Pongah
Masihkah asa menyala?
Di batas cerita
Meredup hening kabut menyaput
Malam kian kelam
Semaput sesak
Habitat sekarat
Penghuni berebut oksigen
Tersisa hanya bara arang debu dan
Yatim piatu
Di batas nyata
Jelaga hitam pekat melekat kian meraya
Habis terang terbitlah gelap😰
Sentuh Jiwa Lewat Puisi ‘Di Batas’, Dokter Karel Dourman Suarakan Realitas Sosial dan Karhutla
Sosok dr. Karel Dourman Saragih HS, SpPD, SpJP, FIHA dikenal luas sebagai dokter spesialis penyakit dalam, jantung, dan pembuluh darah yang berdedikasi tinggi dalam dunia medis. Namun di balik stetoskopnya, ia juga merupakan seorang penyair yang aktif menyuarakan perenungan kehidupan, kemanusiaan, hingga isu lingkungan lewat karya sastra.
Terbaru, dr. Karel merilis puisi bertajuk “Di Batas” yang menyajikan gambaran tajam atas realitas sosial, fenomena politik, serta bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam puisinya, dr. Karel merekam fenomena antrean BBM di SPBU, dinamika politik, hingga krisis alam seperti kabut asap karhutla yang mengancam ekosistem. Ia memadukan ketelitian ilmiah seorang dokter dengan kelembutan seni untuk menggugah nurani publik.
“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” tutur dr. Karel Dourman dengan penuh keyakinan.
Kiprah sastra dr. Karel sejatinya telah mencuri perhatian sejak masa pandemi COVID-19 tahun 2020 lalu. Di tengah tekanan tinggi sebagai tenaga kesehatan di garis depan, ia berhasil menerbitkan buku antologi puisi berjudul Refleksi Diri.
“Pandemi bukan hambatan bagi saya untuk terus berkarya. Justru melalui menulis, saya menemukan ketenangan dan kekuatan baru. Saya tidak pernah merasa lelah maupun frustasi karena menulis adalah bekerja untuk keabadian,” ungkap dr. Karel Dourman Hotman Saragih, Sp.PD, Sp.JP, FIHA saat ditemui Fixsnews.co.id.
Bagi dr. Karel, dunia kedokteran dan sastra bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi sebagai sarana terapi jiwa dan penguat empati. Lewat bait-bait puisi seperti “Di Batas”, ia membuktikan bahwa kata-kata dapat menjadi obat dan penyembuh jiwa bagi masyarakat luas.
“Puisi adalah cermin jiwa. Ia menenangkan, menyembuhkan, dan memberi harapan,” ujarnya penuh makna. (Ben)


















