TPA Benowo Jadi Objek Pemeriksaan BPK, 1.600 Ton Sampah Diolah Tiap Hari

oleh

Caption; BPK memulai pemeriksaan tematik ketahanan energi nasional di TPA Benowo Surabaya. Sebanyak 1.600 ton sampah per hari diolah menjadi listrik 10,65 MW.

SURABAYA, Fixsnews.co.id – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memulai pemeriksaan tematik nasional atas ketahanan energi melalui kunjungan lapangan pemeriksaan kinerja pendahuluan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jumat (21/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian awal pemeriksaan untuk menilai efektivitas kebijakan, tata kelola, program, dan kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan energi nasional.

Pemeriksaan tematik mencakup pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

BPK akan menilai apakah kebijakan dan pelaksanaan program ketahanan energi telah berjalan efektif, efisien, dan sesuai peraturan perundang-undangan.

Pemeriksaan juga diarahkan untuk melihat dukungannya terhadap pencapaian ketahanan energi nasional sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN 2025–2029.

Kunjungan lapangan di TPA Benowo dilakukan untuk memperoleh pemahaman awal mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Aspek yang dikaji mencakup proses bisnis, tata kelola, kelayakan usaha, hingga berbagai tantangan dan kendala dalam pelaksanaannya.

Kunjungan dipimpin Wakil Ketua BPK Budi Prijono.

Turut hadir Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala BPLH Diaz Hendropriyono, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Direktur Jenderal PKN VIII dan Organisasi Internasional BPK, serta sejumlah pejabat terkait dari BPK, KLH/BPLH, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, dan PT Sumber Organik.

“Kunjungan lapangan ini merupakan tahapan awal penting dari pemeriksaan kinerja pendahuluan. Kami ingin melihat secara langsung proses bisnis pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan sampah menjadi energi listrik, kelayakan usaha, serta tantangan dan kendalanya,” ujar Budi Prijono.

Menurut BPK, pengelolaan sampah memiliki keterkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Karena itu, pemeriksaan tidak hanya melihat aspek pengelolaan sampah, tetapi juga efektivitas, efisiensi, akuntabilitas, dan keberlanjutan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

TPA Benowo menjadi salah satu lokasi yang dikaji karena telah menerapkan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Program tersebut dilaksanakan Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan PT Sumber Organik dan mulai beroperasi pada 2021 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018.

Fasilitas PSEL Benowo mengelola sekitar 1.600 ton sampah setiap hari.

Dari jumlah tersebut, listrik yang dihasilkan mencapai total 10,65 megawatt (MW) melalui dua teknologi.

Teknologi gasification mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 9 MW.

Sementara teknologi landfill gas power plant mengolah sekitar 600 ton sampah per hari dengan menghasilkan listrik sebesar 1,65 MW.

Praktik pengelolaan di TPA Benowo menjadi salah satu objek benchmarking BPK.

Melalui kajian tersebut, BPK ingin memperoleh gambaran mengenai praktik pengelolaan sampah dan pemanfaatannya sebagai energi, termasuk efektivitas, efisiensi, tata kelola, serta tantangan implementasinya.

Pemeriksaan Berlanjut ke Tahap Terinci

etelah pemeriksaan kinerja pendahuluan, BPK akan melanjutkan pemeriksaan kinerja terinci atas pengelolaan sampah.

Pemanfaatan sampah untuk energi listrik juga menjadi bagian dari pemeriksaan tematik ketahanan energi tahun 2026.

Secara lebih luas, pemeriksaan tematik nasional tersebut ditujukan untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas kebijakan dan tata kelola ketahanan energi nasional.

BPK juga akan mengidentifikasi berbagai permasalahan, tantangan, serta peluang perbaikan.

Hasil pemeriksaan diharapkan menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah agar pengelolaan ketahanan energi semakin efektif, efisien, akuntabel, dan sesuai ketentuan.

Dalam konteks pengelolaan sampah, pemeriksaan juga diharapkan mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi secara optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.(Ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *