Jakarta,Fixsnews.co.id– Pergerakan harga emas diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Berdasarkan analisis Dupoin Futures, tekanan jual masih mendominasi pasar sehingga peluang penguatan harga emas dinilai masih terbatas dalam jangka pendek.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan harga emas belum mampu keluar dari tren bearish setelah gagal mempertahankan penguatan di area resistance 4.025 hingga 4.063. Kondisi tersebut menunjukkan minat beli masih belum cukup kuat untuk mendorong harga menembus level penting.
“Dengan struktur harga yang masih seperti ini, peluang pelemahan masih lebih besar dibandingkan potensi kenaikan,” ujar Geraldo dalam analisis hariannya.
Secara teknikal, grafik H4 masih memperlihatkan pola lower high, yakni kondisi ketika puncak harga terbaru berada lebih rendah dibandingkan puncak sebelumnya. Pola tersebut umumnya menjadi sinyal bahwa tren penurunan masih berlanjut.
Dupoin Futures memperkirakan harga emas berpotensi kembali menguji level support pertama di 3.942. Apabila tekanan jual terus berlanjut dan harga menembus level tersebut, maka peluang penurunan menuju area support berikutnya di kisaran 3.868 akan semakin terbuka.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari indikator Stochastic yang mulai bergerak turun menuju area oversold atau jenuh jual. Pergerakan tersebut mengindikasikan momentum bearish masih cukup kuat dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.
Selain itu, posisi harga yang masih berada di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 34 memperkuat pandangan bahwa tren utama belum berubah. Kedua indikator tersebut saat ini berfungsi sebagai resistance dinamis yang membatasi ruang kenaikan harga.
Di sisi fundamental, penguatan dolar Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas. Ketika nilai dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung melemah.
Tekanan juga datang dari tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield). Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil.
Selain itu, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve. Apabila data ekonomi Amerika Serikat tetap menunjukkan kinerja yang kuat, peluang suku bunga bertahan pada level tinggi dinilai masih besar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga penguatan dolar AS sekaligus membatasi kenaikan harga emas.
Meski demikian, Dupoin Futures mengingatkan bahwa sentimen pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, maupun data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Untuk saat ini, prospek harga emas masih cenderung negatif. Selama harga belum mampu menembus area resistance 4.025–4.063, tekanan bearish diperkirakan masih mendominasi dengan level 3.942 menjadi area support yang perlu dicermati. Jika level tersebut ditembus, peluang penurunan menuju 3.868 dinilai semakin terbuka.(Red)


















