Caption;Selo Pangestu Imawan membangun Posthinks Agency setelah 10 tahun di industri media, dengan fokus pada media-tech, SEO, AI, dan data.
JAKARTA, Fixsnews.co.id — Selo Pangestu Imawan membangun Posthinks Agency setelah sekitar 10 tahun berkarier di industri media Indonesia. Berbekal pengalaman di berbagai perusahaan media dan agensi, ia mendirikan Posthinks pada Januari 2025 untuk membantu brand mengelola media, algoritma, komunitas, dan target bisnis.
Sebagai Founder dan CEO Posthinks Agency, Selo menyebut perusahaannya dalam waktu kurang dari dua tahun telah menangani sejumlah nama besar, di antaranya Pertamina, Shopee, Telkom, OCBC, Unilever, dan BRI.
Posthinks juga membawa jaringan lebih dari 100 ribu talent dan buzzer, 10 ribu jaringan media, serta lebih dari 500 content clipper.
Selo menjalani perjalanan karier di sejumlah perusahaan yang mewarnai perkembangan industri media Indonesia.
Jejak tersebut mencakup Suara Merdeka Group, Kompas Gramedia, RWE Digital Agency, Okezone, kumparan, hingga Urbanasia Group. Di Urbanasia Group, ia menjabat sebagai Chief Sales & Marketing Officer.
Menurut Selo, pengalaman berpindah posisi di berbagai bagian industri membuatnya dapat melihat perubahan media dari sejumlah sisi.
“Saya tidak pernah pindah industri. Yang saya lakukan cuma pindah posisi duduk, sampai akhirnya saya melihat seluruh ruangannya.”
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu dasar berdirinya Posthinks.
Selo melihat brand membutuhkan pihak yang memahami redaksi, algoritma, komunitas, sekaligus target bisnis. Menurutnya, pemain di pasar umumnya hanya menguasai satu atau dua aspek tersebut.
Mendirikan Posthinks pada Januari 2025
Selo mendirikan Posthinks pada Januari 2025 setelah meninggalkan posisi C-level.
Keputusan tersebut menjadi langkah besar karena ia meninggalkan posisi yang sudah mapan untuk membangun perusahaan sendiri.
Namun, ia mengaku telah memiliki modal jaringan sebelum mendirikan Posthinks.
Selama sekitar satu dekade bekerja di berbagai ruang redaksi dan perusahaan media, Selo membangun jaringan dengan orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan di industri tersebut.
Jaringan tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi awal Posthinks.
Posthinks memposisikan diri sebagai 360° media-tech agency.
Selo mengatakan perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan metrik seperti jangkauan atau reach dalam mengukur keberhasilan sebuah kampanye.
Salah satu angka yang dibawa Posthinks kepada klien adalah tiga juta unique visitor per bulan untuk OCBC. Menurut Selo, capaian tersebut diperoleh bukan sekadar dengan memperbanyak konten, tetapi melalui pembenahan struktur dan otoritas.
“Reach itu angka yang enak dipresentasikan dan hampir tidak pernah menjelaskan apa pun soal penjualan.”
Pendekatan tersebut menempatkan hasil yang dapat dilacak sebagai salah satu fokus dalam layanan yang ditawarkan Posthinks.
Membaca Perubahan dari SEO ke AI
Selo juga melihat perubahan dalam cara masyarakat mencari informasi sebagai salah satu tantangan berikutnya bagi industri digital.
Menurutnya, pencarian informasi mulai bergeser dari mesin pencari menuju mesin penjawab berbasis artificial intelligence atau AI.
Perubahan tersebut membuat strategi digital tidak hanya berfokus pada perebutan peringkat di mesin pencari, tetapi juga bagaimana sebuah brand dapat muncul dalam jawaban dan kutipan yang diberikan sistem AI.
Ia memperkirakan lima tahun ke depan akan banyak dipengaruhi oleh tiga hal yang saling berkaitan, yakni perkembangan SEO, penggunaan AI dalam alur kerja sehari-hari, dan pemanfaatan data perilaku untuk pengambilan keputusan.
Posthinks kemudian menempatkan perubahan tersebut sebagai bagian dari arah pengembangan bisnisnya.
Selo tetap memilih bekerja dari balik layar. Namun, melalui Posthinks, ia mulai membuka cara kerja di balik industri yang selama ini banyak mengatur percakapan publik tanpa selalu terlihat oleh masyarakat.(Ben)

















