Harga Emas Dunia Bergejolak Usai Cetak Rekor, Analis Tetap Nilai Tren Masih Bullish

oleh

Caption: Harga emas dunia terkoreksi setelah mencetak rekor di atas US$5.500 per ounce. Analis menilai tren emas masih bullish meski volatilitas tinggi.

Jakarta, Fixsnews.co.id— Pergerakan harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan hari ini berlangsung dinamis dan tidak stabil. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.500 per ounce, harga emas mengalami koreksi cukup dalam.

Tekanan tersebut dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta melemahnya minat terhadap aset safe haven, seiring rilis data ekonomi AS dan perkembangan terbaru terkait kebijakan moneter Federal Reserve. Meski demikian, emas mulai menunjukkan upaya pemulihan terbatas yang mengindikasikan adanya minat beli di level harga lebih rendah.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai koreksi harga emas saat ini masih tergolong fase penyesuaian yang wajar. Dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, struktur pergerakan emas dinilai masih berada dalam tren bullish.

Menurut Andy, tekanan jual lebih banyak dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, seiring penyesuaian ekspektasi pasar terhadap potensi kebijakan moneter yang lebih ketat. Selain itu, mencuatnya nama figur hawkish seperti Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed turut memberi tekanan sementara terhadap emas karena mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Meski sentimen tersebut menekan pergerakan jangka pendek, Andy menegaskan bahwa kondisi tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan tren utama emas. Jika sentimen pasar kembali kondusif dan minat risiko membaik, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan.

Dalam skenario positif, XAU/USD diproyeksikan mengarah ke area 5.282 pada pekan depan, terutama jika harga mampu bertahan di atas area support dinamis dan dorongan beli kembali menguat.

Namun, Dupoin Futures juga mengingatkan adanya skenario negatif. Jika harga emas menembus level kunci di sekitar 4.368, tekanan jual lanjutan berpotensi membawa harga turun ke area 4.033. Skenario ini dapat terjadi jika dolar AS terus menguat, didukung data ekonomi AS yang lebih solid dari perkiraan.

Dari sisi fundamental, prospek emas jangka menengah hingga panjang masih dinilai menjanjikan. Salah satu faktor penopang utama adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed sepanjang 2026, yang berpotensi menekan imbal hasil riil dan meningkatkan daya tarik emas.

Selain itu, permintaan emas sebagai aset lindung nilai dinilai masih relatif kuat, terutama dari investor institusional dan bank sentral global yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa.

Ke depan, arah harga emas diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi utama AS, seperti ketenagakerjaan, inflasi, CPI, serta pergerakan real yield, yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan di pasar.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *