Caption: Banjir musiman merendam Dusun Kepel, Wuluhan Jember. Sebanyak 200–300 KK terdampak, air capai dada orang dewasa. Pemdes siapkan dapur umum dan posko darurat.
JEMBER, JAWA TIMUR| Fixsnews.co.id- Banjir musiman kembali melanda wilayah selatan Kabupaten Jember. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kecamatan Ambulu dan Wuluhan sejak Rabu malam mengakibatkan banjir luapan di Dusun Kepel, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kamis (15/1/2026).
Sedikitnya 200 hingga 300 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir. Genangan air tidak hanya merendam akses jalan desa, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga, memaksa aktivitas harian lumpuh total.
Di sejumlah titik, ketinggian air di halaman rumah warga mencapai 30–60 sentimeter. Namun pada area yang lebih rendah, air dilaporkan mencapai setinggi dada orang dewasa, menjadikan banjir kali ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Warga terlihat berupaya menyelamatkan barang berharga dan kendaraan. Sepeda motor serta mobil dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan mesin akibat terendam air.
Dampak banjir juga melumpuhkan dapur rumah tangga. Sejumlah warga, termasuk Ibu Kina (55) dan Ibu Siwo (56) di RT 005/RW 008, mengaku tidak bisa memasak karena dapur mereka terendam cukup dalam.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Desa Lojejer, Mohammad Soleh, turun langsung ke lokasi untuk memantau situasi sekaligus menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak.
“Untuk sementara sebelum ada posko atau dapur umum, kami siapkan nasi siap saji agar warga tidak kelaparan,” ujar Soleh di lokasi banjir.
Pemdes Siapkan Dapur Umum dan Posko Darurat
Sebagai langkah penanganan darurat, Pemerintah Desa Lojejer telah Membagikan nasi siap saji kepada warga terdampak, Merencanakan pendirian dapur umum mengingat jumlah korban mencapai ratusan KK serta Menyiapkan posko darurat sebagai pusat koordinasi, informasi, dan layanan kesehatan.
Banjir di Dusun Kepel merupakan bencana musiman yang hampir terjadi setiap tahun. Letak dusun yang berada di dataran rendah menjadikannya sebagai titik kumpul aliran air saat curah hujan tinggi melanda wilayah selatan Jember.
Warga berharap adanya solusi jangka panjang, seperti perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, atau pembuatan sodetan air agar banjir tidak terus berulang setiap musim penghujan.(Dilli)

















