Syair Puitis Dokter Karel Dourman Saragih,IBU

oleh

Penulis : Dokter Karel Dourman Saragih HS, SpPD. Sp JP, FIHA

Caption: Puisi “Ibu” karya dr. Karel Dourman Saragih menyuarakan jeritan kemanusiaan Indonesia. Dokter jantung yang menyembuhkan jiwa lewat sastra.

      IBU

Ibu
Deru kayu
Air bah menyerbu
Sumatera dan Aceh
Ribuan pelajar kehilangan kelas dan guru
November rabu kelabu
Kiamat kecil

Pejabat publik pamer diri
Nir empati

Perut bocah
Cacing beranak pinak
Gizi sanitasi
Kemiskinan

Dulu tongkat dan kayu jadi tanaman dan makanan

Kini Orangtua antri berpeluh dapatkan kupon
Bantuan paket sembako
Untuk makan sekeluarga
Bak Tikus mati di lumbung padi
Quo vadis

Anak kumuh jalanan
Manusia gerobak berkelana di kota hidup bersama polusi

Korupsi merampok hak pendidikan dan kesejahteraan mereka

Perundungan terjadi di tempat belajar
Murid membiasa
Guru kaget
Tergagap nanar

Sarjana hanya menambah pengangguran
Bom waktu

Banyak anak stunting
kehilangan masa depannya
Lost generation
Beban bangsa

Bocah lugu dieksplotasi di lampu simpang agar ada belas kasihan

Tahukah ibu setiap bayi yang lahir hari ini sudah berhutang 30 juta?

Ibu pertiwi itupun
Tengadah berlinang airmata mata
Memohon kasih Ilahi

Ampunilah kami🤲

 

Dokter Jantung yang Menyentuh Jiwa Lewat Puisi: Refleksi Sosial dr. Karel Dourman Saragih

Jakarta, Fixsnews.co.id – Sosok dr. Karel Dourman Saragih HS, SpPD, SpJP, FIHA, dikenal luas sebagai dokter spesialis penyakit dalam serta jantung dan pembuluh darah. Namun di balik ketegasan profesi medisnya, tersimpan sisi lain yang tak kalah kuat: seorang penyair yang menulis dengan nurani.

Melalui puisinya berjudul “Ibu”, dr. Karel menyuarakan jeritan sosial tentang bencana, kemiskinan, stunting, pendidikan yang terampas, hingga eksploitasi anak. Puisi tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi mendalam atas realitas kemanusiaan yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini.

Puisi “Ibu” menggambarkan ironi negeri agraris yang masih bergulat dengan kelaparan, anak-anak yang kehilangan masa depan, serta korupsi yang merampok hak dasar rakyat. Dalam larik-lariknya, dr. Karel menghadirkan sosok Ibu Pertiwi yang menangis, memohon ampunan dan kasih Ilahi atas luka sosial yang terus menganga.

Menyatukan Dunia Medis dan Sastra

Bagi dr. Karel, sains dan seni bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan saling melengkapi. Ketelitian ilmiah seorang dokter berpadu dengan kepekaan rasa seorang penyair, melahirkan karya yang bukan hanya indah, tetapi juga menyentuh dan menggugah kesadaran.

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” ujar dr. Karel dengan penuh keyakinan.

Keyakinan itu semakin nyata saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Di tengah tekanan berat sebagai tenaga kesehatan garis depan, ia justru menemukan kekuatan melalui sastra. Dari perenungan itulah lahir buku antologi puisi Refleksi Diri, yang merekam pergulatan batin, kematian, harapan, dan kemanusiaan di masa krisis global.

Menurut dr. Karel, puisi memiliki kekuatan terapeutik. Tidak hanya bagi penulisnya, tetapi juga bagi pembacanya. Puisi mampu menenangkan, menyembuhkan luka batin, dan menumbuhkan empati di tengah masyarakat yang kian terpolarisasi.

“Puisi adalah cermin jiwa. Ia menenangkan, menyembuhkan, dan memberi harapan,” ungkapnya.

Melalui karya-karyanya, dr. Karel Dourman Saragih membuktikan bahwa dokter tidak hanya menyelamatkan nyawa dengan stetoskop, tetapi juga dapat menyembuhkan jiwa melalui kata-kata. Ia menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan seni, menghadirkan kemanusiaan dalam bentuk yang paling jujur.(Ben)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *