Tekan Angka Penyakit Menular, Pemkot Pasuruan Perkuat Komitmen Lintas Sektor

oleh

PASURUAN-Jatim | Fixsnews.co.id-Pemerintah Kota Pasuruan menegaskan komitmennya dalam menangani penyakit menular prioritas seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Melalui Dinas Kesehatan, kegiatan Penguatan Komitmen Program Prioritas Bidang Kesehatan Tahun 2025 digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kamis (9/10/2025), sebagai upaya memperkuat kerja sama lintas sektor.

​Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam urusan kesehatan masyarakat. “Terkait HIV maupun penyakit menular lain seperti TBC, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dinas Kesehatan pun butuh dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

​Sorotan pada Kepatuhan Pengobatan HIV dan Isu Imunisasi

​Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, dr. Shierly Marlena, MM, menyampaikan bahwa pengendalian TBC, HIV, dan DBD merupakan program prioritas nasional. Berdasarkan data Dinkes, Kota Pasuruan memiliki 467 orang dengan HIV (ODHIV).

​Meskipun penemuan kasus sudah melampaui target (116,1%), kepatuhan pengobatan masih rendah. Hanya 53,8% ODHIV yang menjalani pengobatan ARV, dan baru 55,9% yang berhasil menekan kadar virus (supresi virus).

​“Penemuan kasus sudah sangat baik, tapi kepatuhan pengobatan dan pemerataan layanan masih perlu ditingkatkan. Kita harus terus memperkuat pendampingan,” jelas dr. Shierly.

​Wakil Wali Kota Nawawi juga menyinggung pentingnya dukungan moral bagi penyintas HIV yang kerap menghadapi stigma sosial. Selain itu, Nawawi menyoroti tantangan penolakan imunisasi di masyarakat akibat kekhawatiran efek samping atau anggapan yang keliru. Ia mendesak sosialisasi gencar melalui media sosial, kader kesehatan, hingga forum RT/RW.

​Pencegahan DBD: Bukan Hanya Fogging
​Terkait penanganan DBD, Nawawi mengingatkan masyarakat bahwa fogging (pengasapan) adalah solusi terakhir, bukan yang utama. Ia meminta masyarakat tetap waspada dengan mengedepankan tindakan pencegahan melalui 3M Plus:

​Menguras tempat penampungan air.
​Menutup wadah air.
​Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

​“Yang utama adalah pencegahan. Jangan menunggu sampai kasus meningkat baru minta fogging,” tegasnya, berharap kegiatan ini benar-benar berdampak positif bagi kesehatan masyarakat Kota Pasuruan.(Adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *