Dorong Ketahanan Pangan, FisTx Indonesia Kenalkan Skema KSO Budidaya Udang

oleh

Caption;FisTx Indonesia memperkenalkan skema Kerja Sama Operasional (KSO) budidaya udang berbasis SOP terukur dan bagi hasil transparan untuk tingkatkan produksi nasional.

YOGYAKARTA, Fixsnews.co.id— Perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, FisTx Indonesia, resmi memperkenalkan skema Kerja Sama Operasional (KSO) budidaya udang pada Jumat (16/10/2026). Inovasi ini hadir sebagai solusi investasi bagi masyarakat sekaligus mendukung agenda ketahanan pangan nasional melalui pengelolaan tambak berbasis standar operasional prosedur (SOP) terukur dan transparansi bagi hasil.

Skema KSO ini merancang model kolaborasi yang mempertemukan investor pemilik modal, pemilik lahan tambak yang terhenti akibat keterbatasan dana, serta FisTx sebagai operator teknis. FisTx bertugas menjalankan seluruh rantai operasional budidaya, mulai dari tahap persiapan air, perbaikan infrastruktur, manajemen harian berbasis data, hingga proses panen.

Head of Farming Division FisTx, Bachtiar, menjelaskan bahwa kegagalan budidaya udang di lapangan umumnya disebabkan oleh manajemen yang kurang terukur dan konstruksi kolam yang tidak memadai. Melalui KSO ini, risiko operasional dapat ditekan secara terstruktur.

“KSO kami rancang agar tiga pihak yang saling membutuhkan ini bisa bertemu dalam satu kontrak yang jelas. Investor tidak perlu menjadi petambak, pemilik lahan tidak perlu menunggu modal sendiri terkumpul, dan operasionalnya dijalankan tim yang terbiasa dengan SOP budidaya terukur,” ujar Bachtiar.

Dalam pelaksanaannya, FisTx menawarkan tiga pilihan skema kerja sama, yaitu Full Operational KSO, Technical Advisory KSO, dan skema Hybrid/Performance. Untuk skema pengelolaan penuh, tambak akan dilengkapi dengan teknologi modern seperti sterilisasi air Baskara UV, Cakra Elektrolisis, pendampingan teknisi lapangan melalui Program TAMPAN, serta perbaikan infrastruktur via AQUADEX.

Chief Executive Officer (CEO) FisTx, Rico Wisnu Wibisono, menambahkan bahwa pengaktifan kembali lahan tambak menganggur memberikan dampak positif bagi seluruh ekosistem perikanan budidaya dan rantai pasok nasional.

“Udang adalah komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi. Ketika lahan yang menganggur kembali berproduksi dengan manajemen yang disiplin, manfaatnya dirasakan investor, pemilik lahan, tenaga kerja lokal, dan rantai pasok pangan nasional,” kata Rico.

Berdasarkan catatan internal perusahaan, FisTx telah menjangkau lebih dari 25 provinsi di Indonesia dan 3 negara, dengan rekor produktivitas mencapai 70 ton/ha pada sistem RAS super-intensif di Sumbawa, 60 ton/ha di Bangka, serta 30 ton/ha di Bali. Meski demikian, FisTx menegaskan bahwa kelayakan lokasi tetap menjadi syarat utama sebelum kesepakatan KSO ditandatangani.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *