(Gambar ilustrasi)
Caption:Empat bulan ditutup, puluhan pekerja PT SLI Tangerang kehilangan penghasilan dan bertahan hidup serabutan jelang Lebaran. Manajemen minta audiensi ke Pemkab.
Kabupaten Tangerang, Fixsnews.co.id – Sudah hampir empat bulan aktivitas PT Sukses Logam Indonesia (SLI) dihentikan sementara. Dampaknya tidak hanya dirasakan manajemen, tetapi juga sekitar 110 pekerja yang kehilangan penghasilan dan kini harus bertahan hidup menjelang Lebaran.
Penutupan sementara tersebut berdasarkan surat Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tertanggal 17 Oktober 2025.
Direktur PT SLI Farid Abdurrahman mengatakan, manajemen perusahaan telah melakukan berbagai perbaikan dan pemenuhan perizinan sesuai ketentuan pemerintah, serta siap jika Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang melakukan pengujian ulang.
“Kami siap jika diuji ulang. Semua perizinan dan perbaikan sudah kami lakukan,” kata Farid.
Ia mengakui, pada tahun 2022 perusahaan sempat ditutup karena kekurangan persyaratan. Namun setelah pergantian kepemilikan pada 2024, seluruh perbaikan telah dilakukan.
Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah melakukan uji laboratorium terhadap kebisingan, kebauan, dan udara ambien PT SLI.
Hasilnya, perusahaan dinyatakan layak beroperasi melalui Surat Kelayakan Operasi bernomor S.s.ab/PSLB3/PLB3/PLB.3/9/2024 terkait pengelolaan dan pemanfaatan limbah B3.
“Pada Agustus 2025 kami kembali beroperasi. Namun Oktober 2025 terjadi demo, lalu keluar surat penutupan sementara dari bupati,” ujar Farid.
Ironisnya, pada 20 Oktober 2025, UPTD Laboratorium DLHK Kabupaten Tangerang juga mengeluarkan hasil uji sampel lingkungan PT SLI.
Hasil uji menunjukkan tidak terdeteksi bau, tingkat kebisingan masih dalam ambang batas, serta enam parameter udara seperti sulfur dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan oksidan fotokimia dinyatakan aman.
“Hanya mikron partikel yang sedikit melewati batas. Tapi sumbernya belum tentu dari cerobong SLI, karena di kawasan industri Oleg ada enam cerobong milik beberapa perusahaan,” jelasnya.
Meski demikian, Farid menegaskan manajemen siap dilakukan pengujian ulang demi memastikan kepatuhan terhadap baku mutu lingkungan.

Farid berharap Pemerintah Kabupaten Tangerang dapat membuka ruang audiensi agar persoalan PT SLI dapat dilihat secara utuh dan berimbang.
“Kami sudah dua kali mengajukan audiensi. Harapan kami, pemda bisa mendengar langsung kondisi di lapangan sebelum mengambil keputusan,” katanya.
Di balik persoalan administratif dan teknis, Farid menyebut nasib para pekerja menjadi dampak paling berat akibat penutupan ini.
“Mereka datang ke sini, minta bekerja lagi. Mereka bingung karena Lebaran sudah dekat, sementara penghasilan sudah tidak ada,” katanya.
Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid, mengaku sejak pabrik ditutup, kehidupan keluarganya menjadi tidak menentu.
“Sejak pabrik ditutup, saya kerja serabutan. Sekarang jaga portal di kawasan industri, bang,” ujar Ade saat ditemui di kawasan industri Oleg, Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Sabtu (31/1/2026).
Ade mengatakan, dirinya memiliki tiga anak dan harus tetap memenuhi kebutuhan keluarga, terutama soal makanan bergizi.
“Biar bapaknya makan apa adanya, tapi anak jangan. Mereka harus tetap makan yang bergizi,” ucapnya.
Ia mengaku tidak memahami alasan penghentian sementara aktivitas pabrik yang menjadi tempatnya menggantungkan hidup bersama ratusan pekerja lainnya.
“Kami cuma ingin bekerja lagi. Itu saja,” katanya singkat.(red)


















