Pasar Kripto Masih Volatil, FLOQ Imbau Investor Terapkan Manajemen Risiko

oleh

Caption:FLOQ menilai pasar kripto masih berada dalam fase validasi. Bitcoin bertahan di kisaran US$61.000-62.000 di tengah tekanan ETF, kebijakan The Fed, dan pembahasan CLARITY Act.


JAKARTA, Fixsnews.co.id– Pasar aset kripto memasuki awal Juli 2026 dengan volatilitas yang masih tinggi. Setelah sempat menembus level psikologis 200-week Moving Average (MA), harga Bitcoin (BTC) kembali pulih ke kisaran US$61.000 hingga US$62.000. Di tengah pergerakan tersebut, investor masih mencermati sejumlah faktor penting, mulai dari arus keluar ETF Bitcoin, kebijakan monetisasi Bitcoin oleh Strategy, hingga perkembangan pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat.

CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan kondisi pasar saat ini masih berada dalam fase validasi, di mana pelaku pasar menunggu kepastian dari sisi makroekonomi maupun regulasi.

“Pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari terakhir mencerminkan pasar yang masih mencari keseimbangan. Penurunan di bawah 200-week Moving Average memang menjadi sinyal teknikal yang penting, tetapi rebound yang terjadi menunjukkan bahwa minat beli masih muncul di area support. Untuk jangka pendek, pasar masih membutuhkan konfirmasi sebelum dapat kembali memasuki tren bullish yang lebih kuat,” ujar Yudhono.

Support Bitcoin Berada di Area US$57.800

Secara teknikal, Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$57.950 sebelum kembali menguat. Menurut FLOQ, area US$57.800–58.000 kini menjadi level support utama yang akan menentukan arah pergerakan berikutnya.

Sementara itu, level US$62.500 menjadi resistance penting yang perlu ditembus dengan dukungan volume transaksi yang kuat agar tren pemulihan dapat berlanjut.

Investor Menunggu Sinyal Kebijakan The Fed

Dari sisi makroekonomi, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir Juli.

Data inflasi Amerika Serikat dinilai masih menunjukkan tekanan, namun perlambatan pasar tenaga kerja mulai meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mengurangi kebijakan moneter yang agresif.

“Data ekonomi terbaru memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda, sementara pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Kondisi ini membuka peluang bagi The Fed untuk mengambil pendekatan yang lebih hati-hati. Walaupun belum menjadi sinyal penuh untuk kembali ke mode risk-on, sentimen tersebut cukup membantu meredakan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” kata Yudhono.

Kebijakan Strategy Jadi Sorotan

Selain faktor makro, investor juga mencermati keputusan Strategy yang membuka opsi monetisasi kepemilikan Bitcoin hingga US$1,25 miliar.

Menurut Yudhono, langkah tersebut mengubah narasi perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pemegang Bitcoin jangka panjang tanpa rencana melepas asetnya.

“Program monetisasi ini belum tentu berarti penjualan Bitcoin akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, pasar akan terus memantau implementasinya karena jika tekanan pendanaan meningkat, potensi tambahan pasokan Bitcoin dari Strategy dapat memengaruhi sentimen investor,” jelasnya.

ETF Bitcoin Catat Outflow Terbesar

Produk ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat juga mencatat arus keluar sekitar US$4,1 miliar hingga US$4,5 miliar sepanjang Juni 2026. Angka tersebut menjadi outflow bulanan terbesar sejak ETF Bitcoin spot diluncurkan.

Meski demikian, FLOQ menilai fundamental pasar masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat.

“Arus keluar ETF memang masih menjadi tekanan utama, tetapi data on-chain justru memperlihatkan investor jangka panjang belum melakukan distribusi besar-besaran. Cadangan Bitcoin di bursa tetap rendah dan akumulasi oleh pemegang besar masih berlangsung. Ini menjadi sinyal bahwa fondasi jangka panjang pasar belum berubah secara signifikan,” tambah Yudhono.

Regulasi AS Berpotensi Pengaruhi Sentimen Pasar

Perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Teks final CLARITY Act dijadwalkan terbit pada awal Juli, sementara pembahasan di tingkat legislatif diperkirakan berlangsung hingga awal Agustus.

“Juli akan menjadi periode penting bagi industri aset digital. Pasar bukan hanya menunggu arah kebijakan moneter, tetapi juga kepastian regulasi. Apabila CLARITY Act menunjukkan kemajuan yang positif, hal tersebut berpotensi menjadi fondasi jangka panjang bagi adopsi institusional di pasar kripto,” ujar Yudhono.

Investor Diminta Tetap Terapkan Manajemen Risiko

Di Indonesia, investor juga masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, kontraksi PMI manufaktur, hingga potensi penerapan tarif baru Amerika Serikat terhadap produk Indonesia.

FLOQ mengimbau investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko dalam menghadapi volatilitas pasar. Investor pemula disarankan konsisten menggunakan strategi dollar-cost averaging (DCA), sedangkan trader jangka pendek diminta memperhatikan level support dan resistance sebelum mengambil keputusan investasi.(red)

Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan data publik per 3 Juli 2026 dan bertujuan sebagai informasi pasar. Seluruh isi bukan merupakan rekomendasi investasi maupun ajakan membeli atau menjual aset kripto. Investor diharapkan melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *